Slogan “Menang Tanpo Ngasorake”, Balon Kades Pilang Payung, Sumarno Siap Bertarung
Pendaftaran tersebut diiringi rombongan masyarakat, tokoh desa, dan kalangan pemuda yang turut mengantarkan Sumarno dari kediamannya di Dusun Sumurgung, RT 03/RW 08, menuju Balai Desa Pilang Payung. Rombongan berangkat sekitar pukul 09.00 WIB sebagai bentuk dukungan terhadap langkah politik yang ditempuhnya.
Namun, di balik proses administratif pencalonan tersebut, terdapat pesan yang ingin ditegaskan Sumarno: kompetisi memperebutkan kepemimpinan desa tidak semestinya menjadi alasan untuk memecah persatuan masyarakat.
Mengawali Langkah dengan Doa, Mengedepankan Ikhtiar
Sebelum menuju balai desa, rombongan Sumarno terlebih dahulu singgah di Sendang Desa Pilang Payung. Di lokasi tersebut, Sumarno mengambil air untuk berwudu dan melaksanakan doa bersama.
Langkah itu dimaknai sebagai bentuk ikhtiar batin dan tawakal kepada Allah SWT agar proses pencalonannya diberikan kemudahan serta membawa manfaat bagi masyarakat.
Usai berdoa, rombongan melanjutkan perjalanan menuju balai desa untuk menyerahkan dokumen persyaratan kepada panitia Pilkades Serentak 2026.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, berkas pendaftaran Sumarno telah diterima panitia dan dinyatakan lengkap secara awal, dengan sejumlah dokumen yang masih memerlukan penambahan jumlah lembar atau rangkap untuk dilengkapi kemudian.
Dengan demikian, kelengkapan administratif akhir tetap mengikuti hasil verifikasi dan ketentuan yang ditetapkan panitia Pilkades.
“Menang Tanpo Ngasorake”, Pesan Politik di Tengah Kontestasi
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam pencalonan Sumarno adalah slogan yang diusungnya: “Menang tanpo ngasorake, yen kalah tetep kesatrio.”
Dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut berarti menang tanpa merendahkan pihak lain dan apabila kalah tetap berjiwa kesatria.
Pesan itu menjadi penegasan bahwa kontestasi Pilkades semestinya tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan, tetapi juga pada cara meraih kepercayaan masyarakat dengan tetap menjaga etika dan menghormati pihak lain.
Dalam kompetisi politik di tingkat desa, perbedaan dukungan kerap berpotensi memengaruhi hubungan sosial antarwarga. Karena itu, seruan untuk menghindari saling menjelek-jelekkan, kampanye hitam, maupun provokasi menjadi relevan untuk menjaga suasana demokrasi yang sehat.
Meski demikian, komitmen politik yang disampaikan seorang bakal calon tentu perlu dibuktikan melalui sikap, tindakan, dan konsistensi selama seluruh tahapan Pilkades berlangsung.
Infrastruktur dan Pertanian Jadi Perhatian
Tidak hanya berbicara mengenai etika politik, Sumarno juga menyampaikan sejumlah gagasan yang ingin didorong apabila nantinya memperoleh amanah masyarakat untuk memimpin Desa Pilang Payung.
Dua bidang yang menjadi perhatiannya adalah pembangunan infrastruktur dan pemerataan lahan garapan pertanian. Selain itu, ia ingin membuka ruang keterlibatan generasi muda agar lebih aktif dalam pembangunan serta pengembangan potensi desa.
Gagasan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu diterjemahkan ke dalam program terukur, dengan memperhatikan kebutuhan warga, kondisi anggaran desa, skala prioritas pembangunan, serta ketentuan peraturan perundang-undangan.
Khusus mengenai pemerataan lahan garapan pertanian, pelaksanaannya perlu dirumuskan secara jelas agar tidak menimbulkan persoalan baru, terutama terkait status kepemilikan, hak penguasaan, dan akses masyarakat terhadap lahan.
Bagi masyarakat desa yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan petani tentu menjadi salah satu aspek penting dalam menilai kapasitas calon pemimpin.
Tolak Kampanye Hitam, Persatuan Warga Jangan Dipertaruhkan
Sumarno mengajak masyarakat Desa Pilang Payung untuk menjaga proses Pilkades agar berjalan damai, sehat, dan bermartabat. Ia berharap perbedaan pilihan tidak berkembang menjadi perselisihan ataupun permusuhan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya menghindari kampanye hitam dan tindakan saling menjatuhkan, baik yang dilakukan oleh bakal calon maupun pendukungnya.
Menurut pesan yang disampaikannya, keamanan, kebersihan, kenyamanan, serta kerukunan desa harus tetap dijaga sepanjang proses demokrasi berlangsung.
Sikap tersebut penting karena Pilkades bukan sekadar perebutan jabatan kepala desa, melainkan mekanisme demokrasi untuk menentukan arah pembangunan dan pelayanan publik di tingkat lokal.
Siapa pun yang nantinya mendapatkan kepercayaan masyarakat, tanggung jawab menjaga persatuan tetap melekat pada seluruh elemen desa.
Ujian Sesungguhnya Bukan Hanya Mendaftar, tetapi Menjaga Komitmen
Pendaftaran Sumarno sebagai bakal calon kepala desa menambah dinamika politik di Desa Pilang Payung menjelang Pilkades Serentak 2026.
Slogan “Menang tanpo ngasorake, yen kalah tetep kesatrio” membawa pesan yang cukup tegas: kemenangan tidak seharusnya dibangun dengan merendahkan lawan, sedangkan kekalahan bukan alasan untuk meninggalkan sikap kesatria.
Akan tetapi, masyarakat tentu tidak cukup hanya menilai slogan dan pernyataan politik. Gagasan pembangunan, kemampuan memahami persoalan desa, transparansi, serta komitmen menjaga kerukunan juga menjadi hal yang patut dicermati.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi di Desa Pilang Payung tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berhasil memperoleh suara terbanyak, tetapi juga oleh bagaimana seluruh pihak menjalani kompetisi secara jujur, tertib, dan bertanggung jawab.
Sebab, dalam demokrasi desa, kemenangan seorang calon tidak boleh menjadi kekalahan bagi persaudaraan seluruh warga.
(Parmin/Pertapakendeng.com)




0 Komentar