500 Porsi Makanan Gratis di Timur Alun-Alun Pati, AMPB Bawa Pesan “Rakyat Bantu Rakyat
PATI — Sekitar 500 warga memadati kawasan timur Alun-Alun Simpang Lima Pati, Kamis (1/10/2026) malam. Bukan untuk sebuah kegiatan seremonial pemerintahan, melainkan untuk mengikuti kegiatan Makan Bergizi Gratis yang digelar Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
Kegiatan berlangsung sekitar pukul 18.00 hingga 19.30 WIB di Jalan Tombro Negoro, Kelurahan Pati Kidul, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati.
Dari pantauan di lokasi, makanan disajikan secara prasmanan menggunakan meja yang ditempatkan di bawah dua tenda kecil. Warga dari berbagai kalangan dapat mengambil makanan yang telah disediakan tanpa dipungut biaya.
Menu yang disediakan cukup beragam, antara lain kelo mrico ikan, swike ayam, ampela dan ati, semur telur, mangut, pisang serta air mineral.
Sedikitnya sekitar 500 porsi makanan disiapkan dalam kegiatan tersebut.
Di tengah kegiatan, terlihat sejumlah tokoh yang selama ini aktif dalam aktivitas AMPB, di antaranya Supriyono alias Botok, Teguh Istiyanto, Hadi, Sutikno alias Paijan Jawi, Ali Gondrong, Didik, Nur Cahyo, Mardi dan Eko Tayu.
Istri Supriyono, Anik, juga terlihat hadir bersama anggota AMPB lainnya, sejumlah konten kreator serta masyarakat sekitar.
Bukan Sekadar Makan Gratis?
Yang menarik perhatian bukan hanya jumlah makanan yang dibagikan. Di lokasi kegiatan juga terpampang poster bertuliskan “Rakyat Bantu Rakyat, Dari Pati Untuk Negeri” serta “Pati Bersatu Indonesia Maju.”
Pesan tersebut menjadi identitas yang cukup menonjol dalam kegiatan sosial AMPB malam itu.
Namun, berdasarkan fakta yang terpantau di lapangan, kegiatan tersebut secara terbuka dikemas sebagai kegiatan sosial berupa penyediaan makanan dan minuman gratis bagi masyarakat umum.
Belum terdapat informasi dalam laporan lapangan yang menunjukkan adanya pungutan, kericuhan maupun aktivitas yang mengganggu ketertiban umum.
Karena itu, keberadaan slogan dan keterlibatan sejumlah tokoh AMPB lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari konteks kegiatan, sementara tujuan lebih luas di luar kegiatan sosial tersebut memerlukan keterangan langsung dari pihak penyelenggara.
Dua Kendaraan dan Ratusan Porsi Makanan
Dukungan logistik kegiatan juga terlihat dari keberadaan sejumlah sarana transportasi.
Di lokasi tercatat satu unit bus bernomor polisi KT 7544 CA dan satu unit Ford Ranger bernomor polisi K 9365 FS. Selain itu terdapat tenda serta meja yang digunakan untuk menata makanan.
Kegiatan berlangsung dengan pola pelayanan terbuka. Masyarakat datang, mengambil makanan yang tersedia, kemudian meninggalkan lokasi setelah menerima makanan.
Antusiasme masyarakat cukup terlihat dari jumlah warga yang hadir dan menerima makanan yang diperkirakan mencapai sekitar 500 orang.
“Rakyat Bantu Rakyat” Jadi Narasi Utama
Bagi AMPB, kegiatan tersebut membawa narasi solidaritas sosial melalui slogan “Rakyat Bantu Rakyat.”
Konsep tersebut menunjukkan model kegiatan sosial yang menempatkan masyarakat sebagai penerima sekaligus bagian dari gerakan solidaritas di tingkat lokal.
Namun, sejauh fakta lapangan yang diperoleh, belum ada keterangan mengenai sumber pendanaan kegiatan, pihak yang menyediakan seluruh bahan makanan, maupun mekanisme pengadaan sekitar 500 porsi tersebut.
Aspek tersebut menjadi informasi penting apabila kegiatan serupa dilakukan secara rutin dalam skala besar.
Transparansi mengenai sumber pembiayaan, pengadaan makanan dan keberlanjutan program dapat menjadi bagian dari informasi publik untuk melihat bagaimana kegiatan sosial tersebut dijalankan.
Berlangsung Aman dan Kondusif
Selama kegiatan berlangsung, situasi di sekitar Alun-Alun Pati terpantau aman, tertib dan kondusif.
Tidak ditemukan kejadian menonjol yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kegiatan kemudian berakhir sekitar pukul 19.30 WIB.
Dengan demikian, Makan Bergizi Gratis AMPB malam itu setidaknya menunjukkan satu fakta yang jelas: ratusan masyarakat Pati berkumpul dan menerima makanan secara cuma-cuma dalam sebuah kegiatan yang dikemas dengan pesan solidaritas “Rakyat Bantu Rakyat”.
Sementara itu, apakah kegiatan tersebut akan berkembang menjadi program sosial rutin dan bagaimana mekanisme pembiayaannya, masih menjadi bagian yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.
(Iwan, Winarni)



0 Komentar