Plt. Bupati Pati Sambangi Gereja Santo Yusuf, Toleransi Diuji di Tengah Ancaman Hoaks dan Provokasi

PATI – Kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus dirawat melalui dialog dan tindakan nyata. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Safari Kasih Plt. Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, di Aula Gereja Santo Yusuf Pati, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung tema “Rumah Ibadah Ramah dan Damai: Merawat Persaudaraan dalam Keberagaman”, kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–10.00 WIB itu dihadiri sekitar 200 peserta dari unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh lintas agama, organisasi kemasyarakatan, serta umat Katolik.


Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi lintas iman sekaligus menegaskan pentingnya menjaga Kabupaten Pati agar tetap aman, harmonis, dan terbebas dari konflik yang dipicu intoleransi maupun penyebaran informasi yang menyesatkan.

Safari Kasih di Gereja, Pemerintah Dorong Kerukunan Bukan Sekadar Seremonial

Kehadiran Plt. Bupati Pati di Gereja Santo Yusuf menunjukkan ruang dialog lintas agama sebagai salah satu sarana membangun kepercayaan antarkelompok masyarakat.

Sejumlah pejabat dan unsur terkait turut hadir, antara lain Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Pati Siti Subiati, S.H., M.M.; Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pati Ir. Nikentri Meiningrum, M.Si.; Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaiku, S.Ag., M.Pd.; serta Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pati KH. Ahmad Manhajussidad Shonhaji, Lc., MSI.

Turut hadir perwakilan Kodim 0718/Pati melalui Danramil 08/Cluwak Kapten Inf Karjoko, perwakilan Polresta Pati melalui Kapolsek Kota IPTU Windartono, Danramil 01/Kota Kapten Arh Bambang Wilopo, Sekcam Pati Kota Nilam Ristiana, S.STP., M.Si., Romo Paroki Gereja Santo Yusuf Pati, pengurus Forpela Pati, PKUB kecamatan, Rela.com, serta tokoh agama dan undangan lainnya.

Komposisi peserta tersebut memperlihatkan keterlibatan berbagai unsur dalam upaya merawat kerukunan. Namun, tantangan sesungguhnya tidak berhenti pada pertemuan formal, melainkan bagaimana semangat toleransi diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Kesbangpol: Rumah Ibadah Harus Menjadi Ruang Aman dan Inklusif

Dalam laporan penyelenggara, Kepala Kesbangpol Kabupaten Pati, Ir. Nikentri Meiningrum, M.Si., menjelaskan bahwa Safari Kasih dirancang untuk mempererat silaturahmi lintas agama, memperkuat toleransi dan moderasi beragama, serta mendorong terciptanya rumah ibadah yang aman dan inklusif.

Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menjaga kerukunan masyarakat dan kondusivitas wilayah Kabupaten Pati. Berdasarkan laporan kegiatan, pelaksanaannya didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2026.

Konsep rumah ibadah yang ramah dan damai tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga dengan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan keterbukaan dalam membangun hubungan yang harmonis.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan, tradisi, dan pandangan yang beragam.

Plt. Bupati Pati Ingatkan Bahaya Hoaks dan Isu SARA

Dalam sambutannya, Risma Ardhi Chandra menekankan bahwa kerukunan dan persaudaraan antarumat beragama harus dijaga bersama. Rumah ibadah diharapkan menjadi tempat yang menenteramkan sekaligus menyebarkan pesan perdamaian kepada masyarakat.

Ia juga mengajak tokoh agama, FKUB, generasi muda, dan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat komunikasi serta dialog guna mencegah kesalahpahaman yang berpotensi berkembang menjadi persoalan sosial.

Perhatian turut diarahkan pada penggunaan media sosial. Masyarakat diimbau untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya serta menghindari penyebaran hoaks dan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Pesan ini relevan karena informasi yang tidak terverifikasi dapat memperbesar prasangka, memicu ketegangan, dan merusak hubungan antarkelompok apabila tidak disikapi secara bijaksana.

Meski demikian, keberhasilan menjaga ruang digital tetap sehat membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Literasi digital, komunikasi terbuka, dan respons yang tepat terhadap informasi provokatif menjadi bagian penting dari upaya pencegahan konflik.

Dialog Lintas Iman Jadi Ujian Komitmen Toleransi

Setelah rangkaian pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Pancasila oleh Plt. Bupati, doa, laporan penyelenggara, dan sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif sesuai tema utama.

Dialog tersebut membahas penguatan toleransi, kerukunan antarumat beragama, serta langkah menjaga persaudaraan dan kondusivitas wilayah Kabupaten Pati.

Forum dialog lintas iman memiliki arti strategis karena membuka ruang bagi pertukaran pandangan, penyampaian aspirasi, dan pencarian solusi bersama atas persoalan yang berkaitan dengan kehidupan beragama.

Dalam konteks ini, ukuran keberhasilan Safari Kasih tidak hanya terletak pada terselenggaranya acara, tetapi juga pada keberlanjutan komunikasi dan kerja sama setelah kegiatan berakhir.

Apakah semangat dialog tersebut dapat terus dipelihara dalam program nyata di tingkat kecamatan hingga lingkungan masyarakat? Pertanyaan ini menjadi relevan dalam menilai efektivitas upaya pemerintah daerah bersama tokoh agama dan organisasi masyarakat untuk menjaga toleransi secara berkelanjutan.

Merawat Keberagaman, Menjaga Masa Depan Kabupaten Pati

Rumah ibadah memiliki fungsi utama sebagai tempat pelaksanaan ibadah, sekaligus dapat menjadi ruang pembinaan moral, kepedulian sosial, dan penguatan hubungan kemasyarakatan sesuai dengan nilai dan kegiatan masing-masing komunitas.

Karena itu, upaya membangun rumah ibadah yang ramah dan damai perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kebebasan beragama, sikap saling menghargai, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Pemerintah daerah, Kementerian Agama, FKUB, tokoh agama, aparat keamanan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga agar perbedaan tidak berkembang menjadi pertentangan.

Safari Kasih Plt. Bupati Pati di Gereja Santo Yusuf menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pesan tersebut. Selama kegiatan berlangsung, situasi dilaporkan tertib, aman, dan kondusif.

Pada akhirnya, kerukunan tidak cukup hanya diucapkan dalam forum resmi. Kerukunan perlu dibuktikan melalui sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka, perlindungan terhadap hak setiap warga, serta kesediaan bekerja sama demi kepentingan bersama.

Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga Pati tetap damai.

(Iwan, Winarni)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html