Peternak Ayam Petelur Pati Bergerak ke Jakarta: Harga Telur Anjlok, Pakan Melambung, Pemerintah Didesak Bertindak

PATI — Krisis yang menghimpit peternak ayam petelur mandiri di Kabupaten Pati kembali mencuat. Puluhan peternak berangkat menuju Jakarta untuk menyampaikan aksi damai keprihatinan di depan Gedung DPR RI, Rabu (7/10/2026).


Pemberangkatan dilakukan pada Selasa (6/10/2026) sore dari Plaza Pragolo Pati, Jalan Raya Kudus–Pati, Kecamatan Margorejo. Sekitar 65 orang tercatat mengikuti pemberangkatan tersebut dengan membawa sejumlah perlengkapan aksi.

Aksi yang direncanakan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB itu diperkirakan melibatkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai daerah.

Koordinator aksi menyebut kegiatan tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi peternak rakyat yang merasa semakin tertekan oleh kondisi usaha peternakan ayam dan telur.

Harga Telur Tertekan, Biaya Produksi Justru Melambung

Persoalan utama yang dibawa peternak bukan sekadar harga telur. Di balik aksi tersebut terdapat persoalan struktur biaya produksi yang dinilai semakin tidak seimbang.

Peternak mandiri mengeluhkan tingginya harga sejumlah komponen pakan, terutama jagung dan konsentrat. Pada saat yang sama, harga jual telur di tingkat peternak mengalami tekanan.

Kondisi tersebut disebut telah berlangsung selama sekitar empat hingga lima bulan dan membuat sebagian peternak mengalami kerugian secara berkelanjutan.

Situasi menjadi semakin berat ketika harga jual hasil produksi berada di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Dengan biaya produksi yang tinggi tetapi harga jual rendah, margin keuntungan peternak semakin tergerus.

Pertanyaannya kemudian: siapa yang sebenarnya menikmati rantai perdagangan telur ketika peternak mengaku terus merugi?

Peternak Soroti Ketimpangan Rantai Pasok

Peternak mandiri juga membawa isu mengenai tata niaga dan persaingan usaha. Mereka mendesak pemerintah memastikan pasar tidak dikuasai atau dikendalikan oleh korporasi besar sehingga peternak rakyat kehilangan ruang untuk bertahan.

Selain persoalan harga pakan dan telur, peternak meminta jaminan ketersediaan bibit ayam atau DOC bagi peternak mandiri skala kecil.

Desakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak hanya berada di tingkat kandang, tetapi juga berkaitan dengan rantai pasok mulai dari bibit, pakan, produksi hingga pemasaran.

Aksi Teatrikal Jadi Simbol Keputusasaan

Keprihatinan peternak sebelumnya juga diwujudkan melalui aksi teatrikal yang menggambarkan beratnya kondisi usaha mereka.

Di antaranya aksi mandi telur dan berbagai bentuk simbolisasi keputusasaan akibat produk peternakan yang dinilai tidak memberikan keuntungan memadai.

Peternak juga pernah membagikan hasil produksi secara gratis kepada masyarakat, termasuk sekitar satu ton telur dan satu ton ayam.

Langkah tersebut menjadi gambaran paradoks: produk pangan tersedia melimpah, tetapi peternak yang memproduksinya justru mengaku kesulitan mempertahankan usaha.

Pemkab Pati Sudah Berkomitmen, Kini Bola di Pemerintah Pusat

Persoalan tersebut sebelumnya juga mendapat perhatian pemerintah daerah.

Plt Bupati Pati bersama Ketua DPRD Pati disebut telah menemui massa peternak dan menandatangani nota kesepakatan.

Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah optimalisasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah agar dapat memprioritaskan penyerapan telur dari peternak lokal.

Namun, langkah tersebut belum otomatis menyelesaikan persoalan fundamental yang dihadapi peternak.

Jika harga pakan tetap tinggi sementara harga jual telur terus tertekan, maka penyerapan produk lokal hanya akan menjadi solusi parsial.

Dua Bus Berangkat, Aspirasi Dibawa ke Senayan

Dalam pemberangkatan dari Pati, peserta menggunakan dua bus, masing-masing bernomor polisi K 7416 QA dan K 7919 QD.

Selain bus, peserta membawa pengeras suara, banner atau poster serta bendera Merah Putih sebagai perlengkapan aksi.

Koordinator lapangan aksi antara lain Tomi dan Hartono, sementara Sukalam menangani media. Koordinator bus masing-masing Pendik dan Huda, sedangkan konsumsi dikoordinasikan Winarsih.

Biaya transportasi dan logistik disebut berasal dari swadaya serta dukungan simpatisan paguyuban peternak ayam dan telur.

DPR RI Dihadapkan pada Persoalan Peternak Rakyat

Aksi di depan Gedung DPR RI menjadi momentum bagi peternak untuk menguji sejauh mana pemerintah pusat mampu menjawab persoalan mereka.

Tuntutan yang dibawa antara lain penurunan harga pakan ternak, peningkatan dan stabilisasi harga jual telur serta daging ayam, jaminan ketersediaan DOC bagi peternak mandiri kecil, dan perlindungan terhadap peternak rakyat dari praktik persaingan usaha yang mereka nilai tidak seimbang.

Besarnya rencana massa juga berpotensi menimbulkan konsentrasi massa dan kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan Gedung DPR RI.

Sementara itu, pemberangkatan dari Pati berlangsung aman dan kondusif.

Kini perhatian tertuju ke Jakarta.

Apakah aksi peternak Pati hanya akan menjadi gelombang protes sesaat, atau justru membuka persoalan lebih besar mengenai tata niaga ayam dan telur nasional?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat bergantung pada keberanian pemerintah membenahi persoalan dari hulu hingga hilir—bukan sekadar meredam gejolak ketika peternak sudah berada di jalan.

(Iwan/Winarni)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html