Bukan Sekadar Nasi Gratis, AMPB Gelar Jumat Berkah di Tayu: 500 Porsi Diserbu Warga

PATI — Aksi sosial Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) kembali menarik perhatian publik. Kamis (8/10/2026) sore, kawasan timur Alun-Alun Tayu, Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, berubah menjadi lokasi kegiatan makan gratis yang dikemas dalam program “Jumat Berkah”.



Bukan sekadar pembagian nasi bungkus, AMPB memilih konsep penyajian makanan secara langsung dengan sistem prasmanan. Sekitar 500 porsi makanan disiapkan untuk masyarakat umum tanpa membedakan latar belakang penerima.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 17.15 hingga 19.00 WIB. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menikmati hidangan yang disediakan secara gratis.

Di lokasi, sebuah poster bertuliskan “Bhakti Sosial Makan Gratis Jumat Berkah AMPB untuk Rakyat” menjadi penanda kegiatan sosial tersebut.

Sejumlah tokoh dan anggota AMPB tampak hadir, di antaranya Supriyono alias Botok selaku koordinator lapangan, Teguh Istiyanto, Hadi, Sutikno alias Paijan Jawi, Ali Gondrong, Didik, Nur Cahyo, Mardi, Eko Tayu, serta Anik yang merupakan istri Supriyono. Anggota AMPB lainnya, konten kreator, dan masyarakat sekitar juga turut hadir.

Dari Bandeng Presto hingga Swike Ayam

Yang menarik, menu yang disediakan bukan sekadar makanan sederhana. Warga disuguhi sejumlah hidangan, antara lain bandeng presto, swike ayam, ampela dan ati, semur telur, tahu semur, tempe mondoan, pisang, serta air mineral.

Sekitar 500 porsi makanan disiapkan dan ditempatkan pada meja di samping kendaraan Bus AMPB. Warga kemudian mengambil makanan secara langsung melalui sistem prasmanan.

Konsep tersebut menjadi pembeda dibanding pola pembagian makanan gratis yang umumnya menggunakan nasi kotak atau nasi bungkus.

Menurut keterangan dalam laporan kegiatan, makanan sengaja disajikan langsung agar lebih layak dikonsumsi, tertib, sekaligus mengurangi potensi makanan tidak termakan.

Donasi Masyarakat, Dimasak Mandiri

Di balik kegiatan tersebut, AMPB menyatakan kegiatan sosial ini didanai melalui donasi masyarakat dan makanan dimasak secara mandiri oleh anggota aliansi.

Bagi AMPB, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membagikan makanan. Aksi sosial itu sekaligus menjadi sarana membangun kepedulian dan solidaritas antarmasyarakat.

AMPB selama ini juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial serta menyuarakan sejumlah persoalan kerakyatan dan pendampingan warga di wilayah Kabupaten Pati.

Dari kawasan Pati hingga Tayu dan Margoyoso, aktivitas kelompok tersebut menunjukkan bahwa kegiatan sosial dapat menjadi ruang pertemuan antara komunitas, masyarakat, dan berbagai elemen lokal.

Jumat Berkah atau Model Baru Gerakan Kerakyatan?

Di sinilah kegiatan tersebut menjadi menarik untuk dicermati.

Ketika sekitar 500 warga berkumpul dalam satu lokasi untuk menerima makanan gratis, kegiatan sosial secara otomatis menciptakan ruang interaksi publik yang cukup besar.

Namun, berdasarkan fakta kegiatan yang dilaporkan, tidak terdapat kejadian menonjol maupun gangguan keamanan dan ketertiban. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.

Dengan demikian, kegiatan AMPB kali ini lebih tepat dipandang sebagai bentuk aktivitas sosial berbasis komunitas.

Meski demikian, konsistensi kegiatan semacam ini menarik untuk dicermati. Sebab, ketika aktivitas berbagi makanan dipadukan dengan kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan pendampingan warga, gerakan tersebut berpotensi berkembang menjadi kekuatan sosial yang memiliki pengaruh lebih luas di tingkat akar rumput.

Bukan Sekadar Memberi Makan

Pesan yang ingin dibangun AMPB tampaknya cukup jelas: makan gratis bukan tujuan akhir.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong komunitas maupun pihak lain melakukan hal serupa dan memperluas budaya berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat, aksi sederhana seperti menyediakan makanan gratis justru dapat menjadi simbol solidaritas yang mudah diterima semua kalangan.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi sejauh mana gerakan sosial seperti ini mampu bertahan, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

(Rudiyanti, Rusmin)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html