FORTAMA Bambankerep di Gerakan Semar Gugat: Jangan Tukar Mata Air Ungaran demi Industri
Acara diawali dengan sambutan dari Pak Rahman, pemilik Basecamp Kendalisodo. Dalam pembukaannya, ia menegaskan ancaman nyata proyek eksplorasi tersebut terhadap daya dukung lingkungan kawasan lereng gunung.
"Geotermal ini akan menguras air di Gunung Ungaran, mengurangi pertumbuhan vegetasi yang ada, dan merusak sumber-sumber air warga. Biarlah mereka bilang tidak akan terjadi apa-apa, tetapi dengan semangat kita yang berkumpul di sini, mudah-mudahan kita bisa terus melindungi Gunung Ungaran," tegas Pak Rahman.
Dukungan dan penolakan tegas juga mengalir dari wilayah Kota Semarang. Sriyanto, selaku Koordinator Fortama (Forum Tokoh Masyarakat Berintegritas) Bambankerep, Ngaliyan, Kota Semarang, menegaskan bahwa ancaman terhadap Gunung Ungaran adalah ancaman bagi seluruh warga Semarang dan sekitarnya.
"Kita berdiri di sini bukan hanya sebagai saksi, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari tanah yang kita pijak. Gunung Ungaran, bagi kita masyarakat Semarang dan sekitarnya, bukanlah sekadar tumpukan batu dan tanah dengan pemandangan indah. Dia adalah bapa angkasa, ibu bumi—sumber utama kehidupan, penyedia air bersih yang tak pernah putus, dan penjaga keseimbangan ekosistem," papar Sriyanto.
Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap ekosistem gunung merupakan tanggung jawab lintas generasi. "Setiap tetes air yang mengalir dari sana adalah berkah, setiap embusan anginnya adalah napas. Membiarkan proyek geotermal merusak jantung gunung ini sama saja dengan membiarkan kita memutus urat nadi kehidupan anak cucu kita di masa depan. Kita tidak menolak kemajuan, namun kita tegas menolak kemajuan yang mengorbankan akar kehidupan," pungkasnya.
Kritik dan penolakan keras juga disampaikan oleh Bambang Wilis, perwakilan dari komunitas pecinta dan pegiat alam. Ia menegaskan bahwa proyek pengeboran PLTP di kawasan Gunung Ungaran harus segera dihentikan karena berpotensi besar memicu kerusakan alam yang dapat meluas ke berbagai wilayah.
Bambang Wilis menjelaskan bahwa Gunung Ungaran adalah rumah yang asri dan sejuk bagi pelestarian beragam flora dan fauna, sekaligus penyimpan sumber mata air melimpah bagi kelangsungan hidup warga sekitar. Aktivitas pengeboran panas bumi dikhawatirkan mengontaminasi bahkan mengeringkan mata air tersebut.
Selain krisis air, ia membeberkan risiko pencemaran udara akibat potensi kebocoran gas beracun sebagaimana yang pernah terjadi di sejumlah daerah penyedia PLTP lainnya. Dari sisi kebudayaan, proyek industri ini juga mengancam keberadaan situs purbakala peninggalan masa lalu yang masih banyak terpendam di kawasan gunung. Tak kalah krusial, dampak pencemaran lingkungan akan langsung memukul mata pencaharian warga setempat yang mayoritas menggantungkan hidup dari bertani serta bercocok tanam buah dan sayuran.
Atas berbagai pertimbangan tersebut,
Bambang Wilis menegaskan bahwa komunitas pegiat dan pecinta alam akan bersatu padu menolak pembangunan geotermal di Gunung Ungaran.
Penyelenggara kegiatan sekaligus Ketua Komunitas Rawa Pening bidang Seni Budaya, Heru Gentho, menyambung bahwa gerakan penolakan ini sengaja mengambil jalur seni dan budaya untuk menyatukan pikiran warga lintas daerah sebelum aktivitas eksplorasi berdampak lebih luas.
Poin-Poin Utama Tuntutan dan Kekhawatiran Warga:
1.Perlindungan Sumber Air & Sektor Pertanian: Pengeboran panas bumi dikhawatirkan menguras, merusak, dan mencemari akuifer air tanah yang menjadi tumpuan kebutuhan domestik warga hingga wilayah perkotaan serta irigasi
pertanian buah dan sayur.
2.Kelestarian Vegetasi, Flora & Fauna: Penurunan kualitas lingkungan berisiko merusak ekosistem habitat alami tempat tumbuh dan berkembangnya beragam flora dan fauna endemik Gunung Ungaran.
3.Risiko Kebocoran Gas & Pencemaran Udara: Mengingatkan bahaya dampak kebocoran gas beracun dari sumur geotermal yang mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat.
4.Pelestarian Situs Cagar Budaya: Gunung Ungaran menyimpan banyak situs purbakala peninggalan sejarah yang rentan rusak tergerus proyek skala industri.
5.Penghentian Total Aktivitas: Menuntut pembatalan dan penolakan penuh terhadap masuknya proyek eksploitasi geotermal di wilayah Kabupaten Semarang.
Gerakan solidaritas ini turut dihadiri perwakilan warga dari berbagai daerah seperti Salatiga, Kota Semarang, Kendal, Batang, Blora, Jepara, Pekalongan, hingga Yogyakarta.
Sebagai langkah konsolidasi lanjutan, Semar Gugat merencanakan aksi massa yang ditargetkan menghadirkan 2.000 peserta di kawasan Candi Gedong Songo pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, dalam bentuk ritual dan upacara adat berbahasa Jawa.
(Sriyanto)



0 Komentar