Di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Pati Tetap Berkarya: Premi Agustus Jadi Apresiasi, Seberapa Produktif Pembinaannya?
PATI — Jeruji besi tidak selalu berarti berhenti berkarya. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pati, warga binaan justru didorong untuk tetap produktif melalui berbagai program pembinaan kemandirian.
Program tersebut mencakup sejumlah bidang, mulai dari pengolahan makanan dan pembuatan roti, pertanian, peternakan hingga berbagai kegiatan produktif lainnya.
Namun, di balik pemberian premi tersebut, program pembinaan kemandirian memiliki pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana keterampilan yang diperoleh warga binaan benar-benar mampu menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat?
Pembinaan kemandirian pada dasarnya tidak sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Program tersebut diharapkan menjadi proses pembentukan kemampuan kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, sekaligus kesiapan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan sosial dan ekonomi secara mandiri.
Dalam pelaksanaannya, warga binaan dilibatkan secara langsung dalam berbagai tahapan pekerjaan. Mereka tidak hanya mengerjakan proses produksi, tetapi juga belajar memahami alur kerja sejak persiapan, pelaksanaan, hingga penyelesaian dan pengelolaan hasil kegiatan.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembinaan. Sebab, keterampilan tanpa pengalaman kerja dan kedisiplinan berpotensi sulit diterapkan ketika warga binaan telah bebas.
Kasubsi Giatja Lapas Kelas IIB Pati, Budi Cahyono, mengatakan pemberian premi merupakan bentuk apresiasi terhadap warga binaan yang menunjukkan semangat untuk berkarya dan meningkatkan produktivitas.
“Pemberian premi ini menjadi salah satu bentuk apresiasi Lapas Kelas IIB Pati terhadap semangat warga binaan yang terus berusaha untuk berkarya dan meningkatkan produktivitas,” ujar Budi.
Menurutnya, apresiasi tersebut diharapkan mampu memberikan motivasi agar warga binaan semakin aktif mengikuti program pembinaan.
Lebih jauh, keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Lapas diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas di balik tembok penjara. Bekal tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara positif setelah warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
“Apresiasi tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan bagi warga binaan untuk terus mengikuti kegiatan pembinaan dengan penuh semangat, sekaligus menjadi bekal keterampilan dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan secara positif setelah mereka kembali ke tengah masyarakat,” jelasnya.
Pemberian premi sekaligus menunjukkan bahwa produktivitas warga binaan menjadi salah satu bagian yang diperhatikan dalam proses pembinaan di Lapas Kelas IIB Pati.
Meski demikian, keberhasilan pembinaan tentu tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak produk yang dihasilkan atau premi yang diberikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah keterampilan tersebut benar-benar mampu meningkatkan kemandirian warga binaan setelah bebas dan menekan risiko mereka kembali berhadapan dengan hukum.
Karena itu, transparansi mengenai jenis kegiatan, jumlah warga binaan yang terlibat, mekanisme penghitungan premi, nilai premi yang diterima, hingga keberlanjutan hasil pembinaan menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana program tersebut memberikan manfaat nyata.
Dengan demikian, apresiasi premi periode Agustus bukan sekadar penghargaan atas pekerjaan warga binaan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari ujian penting bagi sistem pemasyarakatan: apakah pembinaan di balik jeruji benar-benar mampu melahirkan manusia yang siap kembali produktif di tengah masyarakat.
(Ahmad Jarmin)



0 Komentar