Senja di Dukuh Bombong, Ketika Alam dan Ajaran Samin Menyatu dalam Kehidupan Desa

PATI – Sore itu, Minggu (9/8/2026), sekitar pukul 17.45 WIB. Matahari perlahan turun di ufuk barat. Cahaya temaram menyelimuti Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Udara terasa adem. Pemandangan pedesaan tampak asri. Aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa, sementara sesekali kendaraan bermotor melintas di jalan penghubung Desa Baturejo dengan Desa Wotan.


Tak ada hiruk-pikuk seperti di perkotaan. Hanya suasana khas pedesaan yang perlahan memasuki waktu petang.

Di tengah suasana sederhana itulah, Dukuh Bombong menyimpan cerita tentang sebuah warisan budaya yang masih melekat dalam kehidupan sebagian masyarakatnya: ajaran adat Samin atau Surosentiko.

Warisan Mbah Samin yang Masih Dikenang

Dukuh Bombong dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki masyarakat penganut ajaran Samin.

Ajaran tersebut tidak sekadar berbicara tentang adat, tetapi juga menekankan nilai-nilai kehidupan sederhana, kejujuran, tidak menyakiti orang lain, serta tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Di antara petuah yang dikenal dalam tradisi Samin adalah:

“Ojo drengki, srei, dahwen, panasten.”

Jangan memiliki sifat iri, dengki, gemar memfitnah, atau mudah marah.

Ada pula prinsip:

“Ora keno bedog colong, pethil jumput, colong jupuk. Ojo meneh nyolong, nemu wae emoh.”

Maknanya kurang lebih adalah tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan haknya, apalagi mencuri. Bahkan ketika menemukan sesuatu yang bukan miliknya, tidak serta-merta mengambilnya.

Nilai tersebut menggambarkan penekanan kuat terhadap kejujuran dan pengendalian diri.

Prinsip lainnya juga mengajarkan seseorang untuk menghormati batas kepemilikan orang lain dan tidak mengambil keuntungan dengan merugikan sesama.

Kesederhanaan sebagai Jalan Hidup

Ajaran Samin yang diwariskan secara turun-temurun dari Samin Surosentiko atau Mbah Samin dikenal memiliki penekanan pada kehidupan yang sederhana, mandiri, jujur, dan tidak merugikan orang lain.


Sosok Samin Surosentiko sendiri merupakan tokoh pergerakan masyarakat pada masa kolonial yang dikenal karena perlawanannya terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda melalui sikap nonkooperatif dan penolakan terhadap sejumlah aturan yang dianggap menindas rakyat.

Nama Samin kemudian menjadi bagian penting dari sejarah sosial dan kebudayaan masyarakat di kawasan Blora, Pati, dan sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Kisah tentang Samin Surosentiko bahkan telah hadir dalam berbagai karya budaya populer, termasuk film yang mengangkat perjalanan dan perjuangan masyarakat Samin.

Senja yang Mengingatkan pada Nilai Kehidupan

Menjelang matahari terbenam di Dukuh Bombong, pemandangan sederhana itu seolah membawa pesan yang lebih dalam.

Di satu sisi terdapat jalan desa dengan kendaraan yang terus berlalu. Di sisi lain, kehidupan masyarakat berjalan dalam kesederhanaannya.

Namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat warisan nilai yang telah diwariskan lintas generasi.

Jangan iri. Jangan dengki. Jangan memfitnah. Jangan mengambil yang bukan hak. Bahkan ketika menemukan sesuatu, jangan merasa berhak memilikinya.

Nilai-nilai tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi dalam kehidupan modern yang semakin kompleks, pesan tentang kejujuran dan menghormati hak orang lain justru terasa semakin relevan.

Senja di Dukuh Bombong akhirnya bukan hanya tentang keindahan alam menjelang matahari tenggelam.

Ia juga menjadi pengingat bahwa desa menyimpan kekayaan yang tidak selalu terlihat: tradisi, filosofi, dan kearifan leluhur yang hidup melalui perilaku masyarakatnya.

Di tengah cahaya sore yang perlahan menghilang, Dukuh Bombong tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.

Dan mungkin, di sanalah makna sebuah warisan budaya bekerja—tidak selalu melalui upacara besar, tetapi melalui cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari.

(Sumadi)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html