Samin Surosentiko: Dari Raden Kohar, Perlawanan Tanpa Kekerasan, hingga Pengasingan di Sawahlunto
Ini Saya lengkapi dengan pendekatan sejarah, antropologi, politik kolonial, bentuk perlawanan tanpa kekerasan, persebaran Sedulur Sikep, serta kontroversi mengenai tempat pengasingan dan makam Samin Surosentiko. Ada satu koreksi penting: Samin Surosentiko wafat pada 1914, sehingga tidak tepat jika perlawanan Samin dikaitkan langsung dengan penjajahan Jepang. Jepang baru menduduki Hindia Belanda pada 1942.
P A T I – Menyebut nama Samin sering kali membawa ingatan pada masyarakat pedesaan yang polos, lugu, tidak suka mencuri, dan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kekuasaan. Namun di balik citra tersebut terdapat sejarah panjang tentang perlawanan terhadap kolonialisme yang dilakukan bukan melalui senjata, melainkan melalui keteguhan sikap, penolakan terhadap aturan yang dianggap tidak adil, serta penguatan kemandirian masyarakat.
Samin kemudian dikenal sebagai Samin Surosentiko atau Mbah Samin. Ia menjadi tokoh utama yang mengembangkan ajaran dan gerakan yang kemudian dikenal sebagai Saminisme.
Sejumlah kajian menempatkan Saminisme bukan sekadar ajaran moral, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan sosial terhadap dominasi kolonial Belanda. Bahkan penelitian terbaru melihat Saminisme sebagai bentuk everyday resistance, yakni perlawanan yang berlangsung dalam praktik kehidupan sehari-hari dan tidak selalu diwujudkan melalui pemberontakan bersenjata.
Bukan Perlawanan dengan Senjata
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, masyarakat Jawa hidup dalam struktur kolonial yang mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk tanah, tenaga kerja, pungutan dan pajak.
Di tengah kondisi tersebut, Samin mengembangkan cara perlawanan yang berbeda.
Mereka tidak mengangkat senjata untuk menghadapi Belanda. Perlawanan justru dilakukan dengan mempertahankan prinsip hidup dan menolak tunduk terhadap sejumlah aturan kolonial.
Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah penolakan membayar pajak kepada pemerintah kolonial.
Bagi pemerintah Belanda, sikap semacam itu bukan persoalan kecil. Ketika semakin banyak petani mengikuti gerakan Samin dan menarik diri dari kendali kolonial, pemerintah mulai melihatnya sebagai ancaman terhadap ketertiban pemerintahan.
Sebuah kajian dalam Jurnal Ilmu Politik mencatat bahwa gerakan tersebut berkembang cukup cepat dan akhirnya membuat pemerintah kolonial memberikan perhatian serius hingga penangkapan Samin pada 1907.
Dengan demikian, keluguan yang sering dipersepsikan oleh masyarakat luar sebenarnya dapat dibaca dari perspektif lain: sebuah bentuk keteguhan dan pembangkangan sipil.
“Ojo Drengki, Srei, Dahwen, Panasten”
Di luar persoalan politik, kekuatan ajaran Samin justru bertumpu pada etika kehidupan sehari-hari.
Petuah yang dikenal luas di kalangan masyarakat Samin antara lain:
“Ojo drengki, srei, dahwen, panasten.”
Jangan iri, jangan dengki, jangan suka memfitnah atau mencela, dan jangan mudah marah.
Ada pula prinsip yang menekankan kejujuran dalam kepemilikan:
“Ora keno bedog colong, pethil jumput, colong jupuk. Ojo meneh nyolong, nemu wae emoh.”
Secara substansi, ajaran tersebut menolak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bahkan barang yang ditemukan pun tidak serta-merta dianggap boleh dimiliki.
Nilai-nilai tersebut menjadikan kejujuran sebagai fondasi penting kehidupan Sedulur Sikep.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam catatan mengenai Samin Surosentiko juga menyebut nilai luhur yang diwariskan Mbah Samin antara lain jujur, sabar, trokal atau tidak mudah menyerah, dan nerimo.
Dari Blora Menyebar ke Pegunungan Kendeng
Gerakan Samin pada awalnya berkembang di wilayah Blora dan kemudian menyebar ke berbagai daerah.
Pada awal abad ke-20, pengikutnya telah terdapat di sejumlah wilayah Blora. Setelah Samin ditangkap dan diasingkan, ajaran tersebut justru tidak berhenti.
Sebaliknya, para pengikutnya meneruskan ajaran Sikep dan menyebarkannya ke kawasan Pegunungan Kendeng.
Wilayah persebarannya kemudian mencakup Blora, Pati, Rembang, Kudus, Grobogan, Bojonegoro, Ngawi, hingga Tuban. Kajian mengenai tradisi lisan Samin mencatat bahwa pada 1917 pengikutnya telah tersebar di berbagai wilayah Pegunungan Kendeng.
Di Kabupaten Pati, salah satu komunitas Sedulur Sikep yang banyak dikaji berada di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo.
Sebuah penelitian Universitas Airlangga secara khusus meneliti perlawanan Sedulur Sikep di Dusun Bombong terhadap dominasi negara. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola perlawanan non-kekerasan bukan hanya cerita masa kolonial, tetapi menjadi bagian dari karakter sosial yang terus dibicarakan dalam kehidupan komunitas Sikep.
Dari “Orang Lugu” Menjadi Ancaman bagi Pemerintah Kolonial
Ada ironi dalam sejarah Samin.
Di mata sebagian masyarakat luar, orang Samin sering dipandang sebagai kelompok yang lugu. Bahkan dalam cerita-cerita masyarakat, sikap mereka terhadap aturan dan kepemilikan kadang menjadi bahan lelucon.
Tetapi dari perspektif pemerintah kolonial, keluguan tersebut justru dapat menjadi masalah serius.
Bayangkan sebuah masyarakat yang tidak melakukan pemberontakan bersenjata, tetapi secara kolektif menolak membayar pajak, tidak mau tunduk begitu saja pada aturan pemerintah kolonial, dan tetap mempertahankan kehidupan berdasarkan nilai mereka sendiri.
Cara seperti itu sulit dihadapi dengan pendekatan militer semata.
Perlawanan tersebut berada dalam ruang sosial sehari-hari.
Tidak membayar. Tidak tunduk. Tidak mengambil milik orang lain. Tidak melakukan kekerasan. Tetapi juga tidak menyerahkan prinsip.
Karena itulah sejumlah penelitian modern melihat Saminisme sebagai bentuk perlawanan yang tidak dapat dipahami hanya dengan kategori “pemberontakan” konvensional.
Penangkapan Samin pada 1907
Ketika pengikut Samin semakin banyak, pemerintah kolonial mulai khawatir gerakan tersebut berkembang menjadi pemberontakan terbuka.
Sejumlah sumber menyebut bahwa pada 1907 Samin Surosentiko ditangkap bersama sejumlah pengikutnya. Kajian tentang tradisi lisan menyebut penangkapan tersebut terjadi pada 8 November 1907, ketika Samin dan delapan pengikutnya ditangkap pemerintah kolonial.
Namun, detail kronologi penangkapan dan tujuan pengasingannya memiliki beberapa versi dalam literatur.
Ada sumber yang menyebut pembuangan ke Padang, ada yang menyebut Palembang, sementara tradisi komunitas Sedulur Sikep serta penelitian mengenai diaspora Sikep di Sumatra mengarah ke Sawahlunto. Bahkan kajian mengenai diaspora Sikep secara eksplisit mencatat adanya perbedaan versi mengenai tempat pembuangan Samin.
Karena itu, penulisan sejarah Samin perlu berhati-hati membedakan antara fakta yang relatif konsisten dan detail yang masih memiliki perbedaan sumber.
Yang relatif kuat adalah bahwa Samin ditangkap Belanda pada 1907 dan kemudian berakhir dalam pembuangan di Sumatra Barat.
Sawahlunto: Akhir Perjalanan Mbah Samin
Sawahlunto pada masa kolonial merupakan kawasan penting pertambangan batu bara.
Di tempat inilah perjalanan Samin Surosentiko berakhir.
Sejumlah sumber menyebut ia menjalani pengasingan di Sawahlunto dan meninggal pada 1914. Kajian mengenai masyarakat Samin dan Tengger bahkan mencatat bahwa di Sawahlunto Samin dikenal sebagai Mbah Suro dan kemudian namanya melekat pada kawasan pertambangan bersejarah Lubang Mbah Suro.
Menariknya, pengasingan ternyata tidak menghapus pengaruhnya.
Di Sawahlunto, nama Samin tetap hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Penelitian tentang diaspora Sedulur Sikep juga mencatat keberadaan jejak komunitas Sikep dan kisah pengikut Samin di Sawahlunto.
Pada 2015, tim sejarah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bahkan menelusuri makam yang diyakini sebagai makam Samin Surosentiko di sebuah bukit di Sawahlunto.
Namun, pada saat itu tim sendiri menyatakan bahwa identitas makam tersebut belum dapat dipastikan secara mutlak berdasarkan bukti historis yang tersedia.
Persoalan makam tersebut kemudian berkembang. Pada 17 Februari 2024, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyatakan telah memperoleh persetujuan untuk mengambil tanah makam Mbah Samin Surosentiko di Sawahlunto.
Mengapa Samin Begitu Penting?
- Samin Surosentiko tidak meninggalkan tentara besar, benteng, ataupun persenjataan.
- Warisan terbesarnya justru berupa cara berpikir dan cara hidup.
- Ia mengajarkan bahwa seseorang dapat melawan ketidakadilan tanpa harus menjadi pelaku kekerasan.
- Perlawanan bisa dilakukan dengan mempertahankan kejujuran.
- Perlawanan bisa dilakukan dengan menolak mengambil hak orang lain.
- Perlawanan bisa dilakukan dengan tidak tunduk pada aturan yang dianggap merugikan.
- Dan perlawanan bisa dilakukan dengan tetap menjaga kehidupan sosial agar tidak berubah menjadi kekerasan.
Dalam konteks inilah Saminisme menjadi menarik bagi para peneliti modern. Sebuah gerakan yang dahulu mungkin dianggap “aneh”, “lugu”, atau “membangkang” ternyata menyimpan konsep mengenai kemandirian, martabat, keadilan dan pembangkangan sipil.
Penelitian terbaru bahkan mengajak melihat kembali Saminisme bukan semata-mata sebagai gerakan lokal, tetapi sebagai bentuk perjuangan masyarakat bawah menghadapi dominasi kolonial dan mempertahankan kedaulatan budaya mereka.
Dari Mbah Samin ke Bombong
Di Bombong, Sukolilo, misalnya, Sedulur Sikep tetap menjadi bagian dari sejarah sosial masyarakat setempat.
Menariknya, komunitas tersebut tidak hanya menjadi objek sejarah. Dalam berbagai persoalan sosial kontemporer, termasuk persoalan lingkungan dan hubungan masyarakat dengan negara, identitas Sedulur Sikep kembali muncul.
Penelitian UGM mengenai Sedulur Sikep di Pegunungan Kendeng menunjukkan bahwa komunitas tersebut masih mempertahankan cara pandang tertentu dalam menghadapi dominasi dan perubahan sosial.
Di sinilah sejarah menjadi relevan.
Senja di Dukuh Bombong bukan hanya menyajikan pemandangan desa yang asri.
Di balik jalan desa, sawah, rumah-rumah sederhana, dan aktivitas masyarakat, tersimpan perjalanan panjang sebuah komunitas yang pernah menghadapi kekuasaan kolonial dengan cara yang tidak lazim.
Mbah Samin mungkin telah meninggal jauh di Sawahlunto pada 1914. Namun gagasan tentang hidup jujur, tidak merugikan orang lain, menjaga martabat, dan berani mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang dianggap tidak adil masih terus menemukan ruang dalam kehidupan para pewaris ajarannya.
Itulah sebabnya sejarah Samin tidak cukup dibaca sebagai kisah tentang “orang lugu yang tidak mau membayar pajak”.
Ia adalah kisah tentang bagaimana masyarakat kecil menemukan caranya sendiri untuk mempertahankan harga diri, tanah, kebebasan, dan keyakinan hidup, tanpa harus mengangkat senjata.
(Sumadi)




0 Komentar