Meron Sukolilo Guncang Pati, Tradisi Religius yang Jadi Perekat Persatuan dan Penggerak Ekonomi
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 11.30 hingga 13.15 WIB tersebut dipimpin Ketua Panitia Meron, H. Shoban Rohman, Lc. Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut hadir, di antaranya Plt Bupati Pati Risma Adi Chandra, perwakilan Kapolresta Pati, Camat Sukolilo, Kepala Desa Sukolilo, jajaran TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat serta masyarakat setempat.
Tradisi tersebut bukan sekadar agenda budaya tahunan. Meron menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus sarana mempertahankan identitas lokal yang telah diwariskan lintas generasi.
Ketika Tradisi Leluhur Bertemu Nilai Keislaman
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi kirab Kepala Desa bersama perangkat desa menuju panggung utama.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan ketua panitia, pembacaan sejarah Meron Sukolilo, sambutan Plt Bupati Pati, doa dan ramah tamah.
Dalam tradisi tersebut, unsur budaya Jawa berpadu dengan nilai religius Islam. Meron selama ini dikenal masyarakat Sukolilo sebagai tradisi yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan berkembang dalam perjalanan sejarah masyarakat setempat.
Bagi masyarakat, Meron bukan hanya ritual budaya. Tradisi ini menjadi momentum untuk berkumpul, bersilaturahmi, bergotong royong dan memperkuat rasa memiliki terhadap sejarah daerah.
Plt Bupati: Jangan Biarkan Meron Sekadar Jadi Seremonial
Plt Bupati Pati Risma Adi Chandra menegaskan bahwa Meron merupakan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Pati yang harus terus dirawat.
Menurutnya, sejarah Meron memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah Mataram dan keraton sehingga generasi sekarang perlu memahami nilai yang terkandung di balik tradisi tersebut.
Risma mengajak masyarakat tidak berhenti pada pelestarian seremoni, tetapi mengambil nilai-nilai Meron untuk membangun Kabupaten Pati di masa kini.
“Saya inginkan bapak ibu sekalian, warga Desa Sukolilo, warga Kabupaten Pati mengambil nilai-nilai Meron ini untuk peradaban sekarang ini untuk membangun Kabupaten Pati.”
Pernyataan tersebut menjadi penting karena tradisi lokal tidak akan bertahan hanya dengan pelaksanaan tahunan. Regenerasi dan pemahaman sejarah menjadi kunci agar generasi muda tidak sekadar mengenal Meron sebagai tontonan, tetapi memahami makna sosial dan budayanya.
Meron Disebut Bisa Menggerakkan Ekonomi Warga
Selain menjadi warisan budaya dan kegiatan keagamaan, Meron juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.
Keramaian yang menghadirkan ribuan orang membuka ruang bagi aktivitas ekonomi warga, mulai dari perdagangan makanan, produk lokal hingga berbagai aktivitas usaha masyarakat.
Risma menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sukolilo, panitia dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan tradisi tersebut.
Ia juga menyebut berbagai pembangunan di Kecamatan Sukolilo sebagai bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, doa dan harapan masyarakat yang disampaikan dalam setiap pelaksanaan Meron harus berjalan beriringan dengan kerja nyata membangun daerah.
2.000 Orang, Satu Tradisi, Satu Ikatan Sosial
Kehadiran sekitar 2.000 peserta menunjukkan bahwa Meron masih memiliki daya tarik kuat di tengah perubahan zaman.
Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat desa, warga perantauan yang pulang kampung, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah serta generasi muda dalam satu ruang kebersamaan.
Di tengah kehidupan sosial yang semakin individualistis, momentum seperti Meron memiliki nilai strategis. Gotong royong, toleransi, silaturahmi dan rasa memiliki terhadap daerah menjadi nilai yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Gunungan Meron yang menjadi bagian penting dalam prosesi juga dipandang sebagai simbol kemakmuran, rasa syukur dan doa masyarakat.
Bukan Sekadar Warisan, tetapi Identitas Sukolilo
Meron pada akhirnya bukan hanya persoalan mempertahankan sebuah ritual tahunan.
Ia merupakan identitas budaya yang mempertemukan agama, sejarah, tradisi Jawa dan kehidupan sosial masyarakat.
Jika dikelola secara konsisten, tradisi tersebut juga dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan daya tarik budaya Kabupaten Pati.
Tantangannya kini adalah bagaimana memastikan Meron tetap hidup tanpa kehilangan makna aslinya—tidak terjebak menjadi sekadar pertunjukan tahunan, tetapi tetap menjadi ruang pendidikan sejarah, penguatan karakter, gotong royong dan persatuan masyarakat.
Selama kegiatan berlangsung, situasi dilaporkan aman, tertib dan kondusif.
Meron boleh berubah mengikuti zaman, tetapi nilai kebersamaan dan sejarah yang menjadi ruhnya jangan sampai hilang.
(Mif)




0 Komentar