Kurasan Sumur Mbah Dieng di Lemah Putih Grobogan, Tradisi Tiga Tahunan Diwarnai Perang Lumpur

GROBOGAN – Tradisi Kurasan Sumur Mbah Dieng di Dusun Lemah Putih, Desa Lemah Putih, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, kembali digelar pada Kamis Kliwon, 6 Agustus 2026.


Tradisi yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali tersebut berlangsung meriah. Warga setempat bersama pengunjung dari berbagai daerah berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk mengikuti maupun menyaksikan rangkaian ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sejak sekitar pukul 06.00 WIB, masyarakat mulai berdatangan dengan membawa nasi bungkus. Nasi tersebut kemudian didoakan oleh modin atau kyai setempat.

Setelah prosesi doa selesai, warga bersama-sama menikmati nasi yang telah didoakan tersebut sebagai bagian dari rangkaian awal kegiatan.

Kirab Menuju Sumur Mbah Dieng

Rangkaian kegiatan selanjutnya diisi dengan prosesi kirab. Kirab dimulai dari rumah Juru Kunci Punden Sumur Mbah Dieng di Dusun Lemah Putih menuju lokasi sumur yang berada di bawah sebuah pohon besar.

Kirab tersebut diikuti oleh Juru Kunci Punden Sumur Mbah Dieng, modin, serta Kepala Desa Lemah Putih.

Setibanya di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi inti, yakni Kurasan Sumur Mbah Dieng.

Prosesi kurasan dipimpin oleh juru kunci bersama keturunan juru kunci terdahulu. Warga dan pengunjung yang berminat juga diperbolehkan ikut terlibat langsung dalam prosesi tersebut.

Suasana kemudian berubah semakin meriah ketika tradisi berlanjut dengan aksi yang dikenal masyarakat sebagai perang lumpur.

Para peserta saling menyiram dan melemparkan air maupun lumpur kepada peserta lainnya. Air dan lumpur tersebut diambil dari dalam sumur menggunakan timba.

Meski pakaian peserta telah dipenuhi lumpur, terdapat pantangan yang tetap dijaga. Peserta tidak diperbolehkan melepas baju atau kaos selama rangkaian prosesi berlangsung.

Peserta tetap diperbolehkan membersihkan tubuh menggunakan air bersih sebelum kembali bergabung dengan peserta lainnya hingga kegiatan berakhir menjelang azan Zuhur.

Tidak Boleh Marah Saat Terkena Lumpur

Tradisi Kurasan Sumur Mbah Dieng bukan sekadar menjadi tontonan masyarakat. Bagi warga Lemah Putih, kegiatan tersebut memiliki nilai adat dan menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan.

Salah satu pantangan yang masih dipegang dalam tradisi tersebut adalah peserta maupun pengunjung tidak diperbolehkan marah apabila terkena siraman air ataupun lemparan lumpur.

Sebaliknya, mereka diperbolehkan membalas dengan air atau lumpur yang diambil dari timba berikutnya.

Kurasan Sumur Mbah Dieng juga diyakini masyarakat harus dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Kepercayaan tersebut berkaitan dengan harapan akan kemakmuran dan peningkatan perekonomian warga.

Keyakinan itu tumbuh dari pengalaman serta cerita masyarakat mengenai pelaksanaan tradisi pada masa-masa sebelumnya.

Jadi Ruang Silaturahmi dan Rezeki Warga

Menariknya, pengunjung yang datang memiliki berbagai tujuan. Sebagian memilih terlibat langsung dalam prosesi Kurasan Sumur Mbah Dieng, sementara lainnya memilih menyaksikan dari sekitar lokasi.

Momentum tersebut juga dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan dan mencari rezeki.

Panitia tidak memungut iuran maupun retribusi kepada pedagang yang berjualan di sekitar lokasi. Pengunjung yang membawa kendaraan juga tidak dikenai biaya parkir.

Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dari aktivitas perdagangan selama acara berlangsung.

Dilanjutkan Langen Tayub hingga Malam

Usai prosesi Kurasan Sumur Mbah Dieng, kemeriahan berlanjut dengan hiburan Langen Tayub.

Pertunjukan dimulai setelah salat Zuhur dan berlangsung hingga malam hari. Pada gelaran tahun ini, panitia menghadirkan penari profesional Giyantini dan kawan-kawan untuk menghibur warga serta pengunjung yang memadati lokasi.

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, gelaran tahun ini juga dirangkaikan dengan semangat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Panitia menyelenggarakan Lomba Tayuban antar-Rukun Tetangga (RT) se-Dusun Lemah Putih.

Lomba tersebut diawali dengan Tayuban Kehormatan yang diikuti Kepala Desa Lemah Putih, Juru Kunci Punden Sumur Mbah Dieng, modin, serta para ketua RT dan RW Dusun Lemah Putih.

Rangkaian kegiatan tersebut membuat suasana Dusun Lemah Putih semakin semarak. Warga dari berbagai kalangan berkumpul, berinteraksi, dan menikmati hiburan bersama.

Merawat Warisan Leluhur di Tengah Perubahan Zaman

Tradisi Kurasan Sumur Mbah Dieng menjadi gambaran bagaimana ritual adat masih dipertahankan masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Bagi masyarakat Lemah Putih, kegiatan yang digelar tiga tahun sekali tersebut bukan semata-mata ritual adat. Kegiatan itu juga menjadi ruang berkumpul, mempererat silaturahmi, menggerakkan aktivitas ekonomi warga, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para pendahulu.

Perang lumpur, kirab, doa bersama, hingga Langen Tayub menjadi satu rangkaian yang memperlihatkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap tradisi lokal.

Kurasan Sumur Mbah Dieng akhirnya tidak hanya menjadi agenda tiga tahunan, tetapi juga menjadi momentum bagi warga Lemah Putih untuk kembali berkumpul dan merawat identitas budaya mereka secara bersama-sama.

(Parmin)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html