Hari Jadi ke-703 Kabupaten Pati: “Sumunar” Jangan Berhenti di Panggung Seremonial, Rakyat Menunggu Bukti Perubahan
Upacara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 09.12 WIB tersebut diikuti sekitar 700 peserta dari unsur Forkopimda, ASN, TNI-Polri, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga tamu undangan.
Plt. Bupati Pati Risma Ardhi Candra bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Pati Ali Badruddin, Kapolresta Pati Kombes Pol. Sigit, S.I.K., M.H., Kasdim 0718/Pati Mayor CPL Kuswaranto yang mewakili Dandim 0718/Pati, Ketua Pengadilan Agama Pati Nurbaeti, S.Ag., M.H., serta Pj. Sekda Kabupaten Pati Siti Subiati, S.H., M.M.
Hadir pula para wakil ketua DPRD, ketua komisi dan anggota DPRD, kepala OPD, camat se-Kabupaten Pati, unsur instansi vertikal, TP PKK, serta sejumlah undangan lainnya.
Tujuh Abad Lebih, Apa yang Berubah?
Peringatan Hari Jadi ke-703 menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang Kabupaten Pati. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa lama Pati telah berdiri, melainkan sejauh mana perjalanan panjang tersebut telah menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Tema Hari Jadi ke-703, “Sumunar Terang, Mbangun Kemajengan”, secara harfiah membawa pesan tentang semangat menerangi sekaligus membangun kemajuan.
Tema tersebut juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.
Sebab, “sumunar” tidak cukup diterjemahkan melalui slogan, baliho, panggung peringatan, maupun rangkaian seremoni. Semangat tersebut harus terlihat dalam kualitas pelayanan pemerintah, transparansi pengelolaan anggaran, pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi masyarakat, serta keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang masih menghadapi persoalan sosial dan ekonomi.
Dalam amanatnya, Plt. Bupati Pati menegaskan bahwa Hari Jadi ke-703 harus menjadi momentum mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat komitmen melanjutkan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Aparatur pemerintah juga dituntut bekerja dengan integritas dan profesional serta memberikan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel.
Reformasi Birokrasi Diuji di Lapangan
Pemerintah Kabupaten Pati juga menegaskan komitmen memperkuat reformasi birokrasi dan membangun budaya antikorupsi.
Pesan tersebut menjadi penting karena ukuran keberhasilan reformasi birokrasi pada akhirnya bukan terletak pada banyaknya dokumen kebijakan, tetapi pada pengalaman masyarakat ketika berhadapan langsung dengan pelayanan pemerintah.
Apakah pelayanan semakin cepat?
Apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan haknya?
Apakah birokrasi semakin transparan?
Dan yang paling penting, apakah praktik-praktik yang berpotensi merugikan masyarakat semakin dapat ditekan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab pemerintah setelah peringatan Hari Jadi ke-703 berakhir.
Ekonomi Daerah Jadi Tantangan Besar
Dalam amanatnya, Plt. Bupati juga menyoroti sejumlah sektor yang dipandang sebagai penggerak ekonomi daerah, mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi, UMKM, koperasi, pertanian, perikanan hingga pariwisata.
Pilihan sektor tersebut cukup strategis mengingat sebagian besar kekuatan ekonomi masyarakat Pati bersentuhan langsung dengan sektor-sektor tersebut.
Namun, kembali pada persoalan mendasar: seberapa besar masyarakat menjadi penerima manfaat dari pembangunan tersebut?
Investasi harus mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi lokal. Infrastruktur harus benar-benar meningkatkan konektivitas dan produktivitas masyarakat. UMKM dan koperasi harus memperoleh ruang berkembang, bukan sekadar menjadi objek program pemerintah.
Begitu pula sektor pertanian dan perikanan. Kemajuan daerah akan sulit disebut berhasil apabila para pelaku utama di sektor tersebut masih menghadapi persoalan klasik seperti akses pasar, biaya produksi, infrastruktur pendukung, serta ketidakpastian pendapatan.
Dari Mengenang Masa Lalu Menuju Evaluasi Hari Ini
Peringatan Hari Jadi juga dilengkapi pembacaan sejarah singkat Hari Jadi Kabupaten Pati. Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah rombongan ke Makam Tombro Negoro yang diikuti Forkopimda dan unsur terkait.
Ziarah menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para pendahulu.
Namun, mengenang sejarah semestinya tidak berhenti pada prosesi penghormatan.
Sejarah harus menjadi cermin.
Dari perjalanan 703 tahun Kabupaten Pati, masyarakat dan pemerintah dapat melihat apa yang telah berhasil dicapai, apa yang belum selesai, serta kesalahan apa yang tidak boleh kembali diulang.
Dengan demikian, peringatan Hari Jadi bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi momentum evaluasi perjalanan pemerintahan dan pembangunan daerah.
“Sumunar” Harus Dirasakan Rakyat
Hari Jadi ke-703 pada akhirnya menghadirkan pekerjaan rumah yang cukup besar bagi pemerintah daerah.
Pati tidak cukup hanya dikenal karena sejarah panjangnya. Pati harus mampu menunjukkan wajah baru sebagai daerah yang memiliki pelayanan publik berkualitas, birokrasi yang bersih, ekonomi masyarakat yang tumbuh, serta pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.
Karena itu, “Sumunar Terang, Mbangun Kemajengan” semestinya tidak berhenti sebagai tema peringatan.
Slogan tersebut harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan hasil nyata.
Peringatan Hari Jadi ke-703 harus menjadi titik balik: dari sekadar Pati yang dikenal karena sejarahnya, menuju Pati yang benar-benar “Sumunar” karena kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
Jika tujuh abad lebih perjalanan Pati adalah sejarah yang panjang, maka satu tahun ke depan harus menjadi momentum pembuktian.
Bukan lagi sekadar berbicara tentang kemajuan, tetapi menunjukkan bukti bahwa kemajuan itu benar-benar sampai ke masyarakat.
Upacara berlangsung tertib dan aman. Setelah seluruh rangkaian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah rombongan ke Makam Tombro Negoro.
(Arikha)



0 Komentar