“Blandong Jati” Terbang Kalahkan “Sego Pecel”, Kecamatan Jati Sabet Gelar Juara Layangan 3D Blora
Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan beragam kreasi layang-layang hias tiga dimensi (3D) menghiasi langit Blora.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, lomba tahun ini diikuti peserta yang mewakili masing-masing kecamatan di Kabupaten Blora. Setiap tim membawa nama dan identitas daerah masing-masing.
Sebanyak 29 layang-layang hias 3D diterbangkan dalam perlombaan tersebut. Beragam kreasi bernuansa kearifan lokal ditampilkan, mulai dari dokar, gerobak sate, penjual sego pecel, becak listrik, barongan, Burung Garuda, hingga blandong kayu jati.
Sekretaris Dinrumkimhub Kabupaten Blora, Denny Adhiharta Setiawan, ST., MT., mengatakan kegiatan tersebut masih menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
“Jumlah yang mendaftar sebanyak 31 peserta, namun yang datang untuk daftar ulang hanya 29 peserta. Seluruh peserta merupakan perwakilan dari masing-masing kecamatan, dengan ketentuan mengirim minimal dua dan maksimal lima peserta,” ujar Denny.
Menurutnya, tema utama lomba tahun ini mengangkat kearifan lokal Kabupaten Blora. Para peserta diberikan ruang untuk menuangkan kreativitas dengan mengangkat berbagai potensi, budaya, maupun ikon daerah.
“Pada layangan tiga dimensi ini mereka membuat berbagai bentuk, seperti dokar, gerobak sate, penjual pecel, becak listrik, barongan, Burung Garuda, blandong kayu jati, dan lainnya,” jelasnya.
Denny menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan lomba tahun ini untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada tahun berikutnya.
“Nanti akan kami evaluasi hasil hari ini. Ke depan apakah perlu dibuat beberapa kategori atau mungkin dengan mekanisme lain,” imbuhnya.
Blandong Jati Bawa Filosofi Kearifan Lokal
Sementara itu, Camat Jati, Edy Wibowo, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut bersama Tim Manggala Praja Jati. Timnya mengusung tema “Jati Blora” melalui kreasi layang-layang berbentuk blandong kayu jati.
Menurut Edy, pemilihan bentuk blandong jati bukan tanpa alasan. Kayu jati merupakan salah satu identitas penting Kabupaten Blora dan memiliki nilai filosofis yang kuat.
“Teman-teman dari Jati membuat layangan berbentuk blandong jati. Ini memiliki filosofi jati yang mencerminkan keteguhan hati, kekuatan prinsip hidup, dan kemampuan beradaptasi di tengah kesulitan. Sebagai ‘raja kayu’, nilai-nilai pohon jati sarat dengan makna tentang karakter manusia dan perjalanan hidup,” ungkap Edy.
Dalam kreasi tersebut juga terdapat dua sosok yang sedang menggergaji kayu. Menurut Edy, kedua figur itu menggambarkan nilai kerja sama, keseimbangan peran, serta kesabaran dalam mencapai tujuan bersama.
Untuk menghasilkan layang-layang tersebut, tim Kecamatan Jati membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Sejumlah percobaan dilakukan sebelum akhirnya layang-layang blandong jati mampu terbang dengan baik.
“Alhamdulillah bisa juara. Tentunya ini menjadi pelecut semangat kami yang ada di Kecamatan Jati,” katanya.
Bupati: Layangan Jadi Media Promosi Budaya
Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman mengapresiasi seluruh panitia, komunitas layang-layang, peserta, serta masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia juga mengapresiasi 29 tim yang berpartisipasi mewakili kecamatan se-Kabupaten Blora.
“Artinya, kegiatan ini bukan hanya milik satu kelompok atau satu wilayah, tetapi sudah menjadi ruang bersama bagi masyarakat Blora untuk menunjukkan kreativitas, kekompakan, dan kecintaan terhadap budaya daerah,” ujar Arief.
Menurutnya, tema kearifan lokal yang diangkat dalam lomba sangat tepat. Layang-layang yang dibuat peserta tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan budaya, kesenian, tradisi, cerita rakyat, kuliner, hingga berbagai potensi Kabupaten Blora.
“Layang-layang tidak hanya menjadi permainan atau hiburan, tetapi juga menjadi media promosi budaya dan potensi daerah,” katanya.
Arief berharap kegiatan kreatif semacam itu terus berkembang dan melibatkan lebih banyak masyarakat, mulai dari desa, kelurahan, kecamatan, komunitas, hingga generasi muda.
“Saya yakin Blora punya banyak orang kreatif, banyak potensi, dan banyak cerita yang belum semuanya kita tampilkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, kegiatan seperti lomba layang-layang juga memiliki dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
“Datang nonton layangan kemudian kulineran menikmati produk UMKM menjadi kegiatan yang bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.
Daftar Pemenang
Berikut hasil Lomba Layang-Layang Hias 3D Bupati Blora Cup 2026:
- Juara I: Kecamatan Jati — Layangan Hias 3D “Blandong Jati”.
- Juara II: Kecamatan Blora — Layangan Hias 3D “Penjual Sego Pecel”.
- Juara III: Kecamatan Blora — Layangan Hias 3D “Loco Tour”
- Juara Favorit: Kecamatan Banjarejo — Layangan Hias 3D “Kereta Kencana”.
(Bambang)
x



0 Komentar