x

Forkopimda blora

Aklamasi Tanpa Lawan! Prof. Mudzakir Ali Kembali Pimpin APTISI Komisariat 1 Jateng

SEMARANG — Musyawarah Komisariat (MUSKOM) 1 Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Jawa Tengah kembali menempatkan Prof. Dr. H. Mudzakir Ali, MA sebagai Ketua APTISI Komisariat 1 untuk masa bakti 2026–2031.

Menariknya, proses pemilihan yang berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026, tidak melahirkan kontestasi terbuka. Dari forum musyawarah, hanya satu nama yang mengemuka. Peserta akhirnya memilih Mudzakir Ali secara aklamasi dan musyawarah mufakat untuk kembali memimpin organisasi yang menaungi lebih dari 80 perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah Komisariat 1 Jawa Tengah


Wilayah Komisariat 1 tersebut meliputi Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, Jepara, Kudus, Purwodadi, Pati, Rembang, hingga Blora.

Keputusan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kepemimpinan periode sebelumnya dinilai masih memiliki mandat kuat untuk melanjutkan agenda konsolidasi dan penguatan PTS.

Laporan Pertanggungjawaban Diterima Tanpa Syarat

Sebelum memasuki agenda pemilihan ketua, MUSKOM terlebih dahulu membahas laporan pertanggungjawaban Ketua APTISI Komisariat 1 periode 2022–2026.

Dari 29 PTS yang hadir dalam forum musyawarah, laporan pertanggungjawaban yang disampaikan Prof. Mudzakir Ali diterima peserta tanpa syarat.

Dalam laporan tersebut, sejumlah program organisasi selama periode sebelumnya disampaikan, termasuk kegiatan kerja sama dan jejaring internasional dengan perguruan tinggi maupun institusi dari Malaysia, Thailand, India, serta sejumlah negara lainnya.

APTISI Komisariat 1 juga disebut aktif menggelar kegiatan berskala nasional dengan menghadirkan narasumber dari kementerian, LLDIKTI, serta para pakar pendidikan tinggi.

Penerimaan laporan tanpa syarat kemudian membuka jalan bagi agenda berikutnya: pemilihan ketua periode 2026–2031.

Satu Nama Muncul, Pemilihan Berubah Menjadi Aklamasi

Pimpinan sidang yang dipimpin Dr. Drs. Tri Leksono, Ph.D., S.Kom., M.Pd., Kons., terlebih dahulu membacakan tata tertib MUSKOM dengan mengacu pada AD/ART APTISI.

Salah satu ketentuan yang menjadi dasar pengambilan keputusan adalah apabila calon ketua hanya terdapat satu orang, maka pemilihan dapat dilakukan secara aklamasi. Pengambilan keputusan juga sedapat mungkin ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

Dalam forum tersebut, Ketua APTISI Wilayah Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, yang hadir secara daring, turut memberikan arahan sekaligus mengusulkan agar Prof. Mudzakir Ali kembali melanjutkan kepemimpinan Komisariat 1.

Usulan tersebut kemudian mendapat dukungan peserta musyawarah.

Tidak muncul kandidat lain. Forum akhirnya menyepakati Prof. Dr. H. Mudzakir Ali, MA, dari Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang, untuk kembali memimpin APTISI Komisariat 1 Jawa Tengah periode 2026–2031.

Keputusan ditetapkan secara aklamasi setelah mendapat persetujuan pimpinan APTISI Jawa Tengah dan seluruh peserta MUSKOM.

Pimpinan sidang selanjutnya memberikan mandat kepada ketua terpilih untuk segera membentuk tim formatur guna menyusun struktur kepengurusan periode 2026–2031 dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Edi Noersasongko: PTS Jangan Berjalan Sendiri-sendiri

Dalam arahannya, Prof. Edi Noersasongko menekankan pentingnya membangun kekuatan bersama di antara PTS.

Menurutnya, perguruan tinggi swasta harus saling menguatkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, adaptif terhadap perkembangan sains dan teknologi, serta berbasis kolaborasi.

Persoalan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. PTS didorong memiliki dosen yang kompeten sesuai bidang kepakarannya, mulai jenjang S1, S2, S3 hingga guru besar.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan transformasi pendidikan tinggi menuju persaingan global.

Bukan Sekadar Pergantian Ketua, Ada Agenda Besar 2045

APTISI Komisariat 1 Jawa Tengah menempatkan periode 2026–2031 bukan sekadar sebagai pergantian struktur organisasi.

Visi yang didorong adalah mentransformasi PTS agar semakin berdaya saing global, inovatif, inklusif, dan mampu menghasilkan human capital berkualitas internasional sebagai bagian dari agenda menyongsong Indonesia Emas 2045.

Sedikitnya ada empat agenda strategis yang menjadi perhatian.

  1. Pertama, kesetaraan ekosistem pendidikan tinggi, yakni mendorong terciptanya ekosistem yang sehat dan adil antara perguruan tinggi negeri dan swasta.
  2. Kedua, penyediaan human capital, dengan menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi dan mampu mendukung industrialisasi nasional serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  3. Ketiga, pemberdayaan anggota, termasuk menampung serta memperjuangkan aspirasi lebih dari 80 PTS yang berada di wilayah Komisariat 1.
  4. Keempat, membangun paradigma “maju bersama”, dengan mengubah pola kompetisi yang berpotensi saling menjatuhkan menjadi kolaborasi yang saling menguatkan.

Konsep tersebut antara lain diwujudkan melalui gagasan agar PTS yang lebih besar dapat membantu pendampingan terhadap PTS yang masih membutuhkan penguatan kelembagaan dan kapasitas.

Tantangan Lima Tahun ke Depan: Kolaborasi atau Tertinggal

Kembalinya Mudzakir Ali ke kursi ketua sekaligus menempatkan APTISI Komisariat 1 pada tantangan baru.

Persaingan pendidikan tinggi tidak lagi semata-mata terjadi antarkampus dalam satu wilayah. Perkembangan teknologi, internasionalisasi pendidikan, tuntutan kualitas lulusan, kompetisi sumber daya manusia, serta perubahan kebutuhan industri membuat PTS dituntut bergerak lebih cepat.

Karena itu, keberhasilan kepengurusan 2026–2031 nantinya tidak hanya akan diukur dari banyaknya kegiatan organisasi, tetapi juga dari sejauh mana kolaborasi tersebut menghasilkan perubahan nyata bagi PTS anggota.

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memimpin, karena forum telah menjawabnya secara aklamasi. Tantangan sebenarnya justru dimulai setelah palu sidang diketukkan: mampukah kepemimpinan lima tahun ke depan mengubah puluhan PTS di Komisariat 1 dari kompetitor menjadi kekuatan bersama menuju pendidikan tinggi berkelas internasional?

MUSKOM kemudian ditutup dengan ketukan palu sebanyak tiga kali, menandai berakhirnya seluruh rangkaian persidangan.

(Sukindar)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html