Penggilingan Berhenti Total, Sopir Truk Tebu Desak PG Pakis Baru Tetap Terima Muatan
Mesin PG Pakis Baru Rusak, Sopir Truk Tebu Gelar Aksi Spontan: “Kami Sudah Menunggu Dua Hari”
PATI – Puluhan sopir truk pengangkut tebu melakukan aksi spontan di area parkir belakang Pabrik Gula (PG) Pakis Baru, Desa Pakis, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Sabtu (4/7/2026), setelah aktivitas penerimaan dan pembongkaran tebu terhenti akibat kerusakan mesin penggilingan.
Sekitar 25 sopir terlibat dalam aksi tersebut yang berlangsung mulai pukul 11.00 WIB hingga 14.30 WIB. Mereka menuntut agar pihak pabrik tetap menerima dan membongkar muatan tebu yang telah menunggu selama satu hingga dua hari.
Berdasarkan informasi di lapangan, kerusakan mesin terjadi sekitar pukul 10.30 WIB dan memaksa operasional penggilingan dihentikan untuk sementara waktu. Kondisi tersebut memicu kekecewaan para sopir yang khawatir tebu yang diangkut mengalami penurunan kualitas apabila terlalu lama menunggu.
Manager Tanaman PG Pakis Baru, Pramono Sidik, bersama petugas keamanan pabrik, berupaya memberikan penjelasan kepada para sopir mengenai kondisi darurat yang sedang dihadapi perusahaan.
Namun, para sopir tetap meminta agar muatan mereka diprioritaskan untuk dibongkar. Situasi diperumit oleh informasi bahwa beberapa pabrik gula lain di wilayah sekitar, termasuk PG Trangkil dan PG Rendeng Kudus, juga mengalami penghentian operasional sehingga pilihan alternatif menjadi sangat terbatas.
Meski berlangsung tanpa koordinator lapangan maupun pemberitahuan resmi sebagai aksi unjuk rasa, massa bertahan menunggu kepastian dari pihak manajemen.
Aparat gabungan dari Koramil 03/Tayu dan Polsek Tayu segera melakukan pengamanan dan pengawalan proses mediasi. Hadir dalam kegiatan tersebut unsur TNI, Polri, serta petugas keamanan internal pabrik.
Setelah dilakukan dialog, pihak PG Pakis Baru akhirnya memutuskan tetap menerima sebagian muatan tebu dengan skema prioritas berdasarkan urutan kedatangan dan menyesuaikan kapasitas area tunggu pembongkaran yang tersedia.
Manajemen menegaskan bahwa keterbatasan ruang penampungan membuat pabrik belum dapat mengakomodasi seluruh kendaraan yang mengantre. Karena itu, sopir yang telah lebih dahulu datang akan diprioritaskan masuk ke area bongkar.
Keputusan tersebut diterima para sopir sehingga aksi spontan yang sempat memanas dapat diakhiri secara damai. Massa kemudian membubarkan diri sambil menunggu giliran masuk ke lokasi pembongkaran.
Meski situasi berhasil dikendalikan, potensi gejolak lanjutan masih perlu diantisipasi apabila kerusakan mesin berlangsung lebih lama atau kapasitas penampungan tidak mampu mengakomodasi seluruh armada yang datang. Keterlambatan pembongkaran tidak hanya berdampak pada pendapatan sopir, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas tebu yang menjadi bahan baku utama produksi gula.
Aparat keamanan bersama pihak manajemen pabrik terus melakukan pemantauan untuk memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif.
(Widodo)
x



0 Komentar