GERMAPUN Gelar Brokohan Gerak Nusantara di Pundenrejo, Angkat Isu Konflik Agraria Lewat Jagong Budaya
Kegiatan yang berlangsung pukul 20.30 hingga 22.30 WIB tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dan dipimpin Ketua GERMAPUN, Sarmin. Acara diikuti anggota GERMAPUN, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), tokoh masyarakat, aktivis lingkungan, serta sejumlah pendamping hukum.
Turut hadir Ketua JMPPK Gunretno, tokoh JMPPK Gunarti, tokoh muda Ansor Gus Faishol dari Kajen, perwakilan LBH Semarang Fajar Dika, aktivis lingkungan Farid dari Dukuhseti, serta sejumlah tokoh dan anggota GERMAPUN.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa bersama, dilanjutkan sambutan, aksi teatrikal Gerak Nusantara, pembacaan deklarasi, tumpengan, ramah tamah, brokohan, jagong budaya, hingga penutupan.
Dalam sambutannya, Ketua JMPPK Gunretno mengajak masyarakat untuk terus memperjuangkan kelestarian lingkungan serta melindungi petani melalui cara-cara damai dan berbasis budaya.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan Desa Pundenrejo sebagai lokasi pencanangan Gerak Nusantara memiliki makna historis karena dianggap sebagai titik awal perjuangan yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat.
Menurutnya, Gerak Nusantara tidak hanya berbicara mengenai konflik agraria di Pundenrejo, tetapi merupakan gerakan rakyat yang mengusung cita-cita kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama. Ia juga menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak mengarah pada tindakan radikal, melainkan mengedepankan pendekatan budaya sebagai media penyampaian aspirasi.
Sebagai simbol perjuangan, peserta menampilkan aksi teatrikal berupa tarian sesaji, penyalaan obor, serta pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi tokoh Begawan dan Punakawan sebagai lambang perjuangan menegakkan kebaikan.
Dalam deklarasi Gerak Nusantara, peserta menyampaikan sejumlah harapan, antara lain terwujudnya kesejahteraan rakyat melalui tersedianya lapangan kerja, swasembada pangan dan energi, pelestarian lingkungan darat, laut, dan udara, kebebasan berkarya tanpa tekanan maupun intimidasi, serta terciptanya rasa aman bagi seluruh masyarakat.
Kegiatan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas warga dalam memperjuangkan hak atas tanah yang masih menjadi sengketa di kawasan eks Hak Guna Bangunan (HGB) PT LPI di Desa Pundenrejo. Tradisi brokohan dan jagong budaya dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi masyarakat sekaligus refleksi spiritual dalam memperjuangkan hak-hak agraria secara damai.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga selesai.
(Rusmin)




0 Komentar