Pedagang Ikan Gadudero Dijemur Matahari dan Diguyur Hujan, Pemerintah Kemana?

PATI – Di sisi selatan Jembatan Mborow Turut kabupaten Kudus, persisnya di sebelah Utara Dukuh Poncomulyo, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, terdapat sebuah pasar dadakan yang setiap sore menjadi tumpuan hidup para pencari nafkah dari hasil tangkapan ikan air tawar. Di lokasi sederhana itu, para pedagang menjajakan beragam jenis ikan hasil tangkapan pencari ikan tradisional.

Mulai dari ikan gabus, ikan tombro, ikan nila, belut, ikan sili, hingga berbagai jenis ikan air tawar lainnya tersusun di lapak seadanya. Harga yang ditawarkan pun terbilang sangat murah dan ramah bagi masyarakat. Salah satu contohnya, ikan tombro dengan berat sekitar tiga kilogram hanya dijual seharga Rp50.000.

Namun di balik murahnya harga ikan yang dinikmati pembeli, tersimpan potret getir kehidupan para pedagang kecil yang seolah luput dari perhatian pemerintah.

Setiap hari, pasar dadakan ini mulai ramai sekitar pukul 15.00 WIB hingga menjelang matahari tenggelam. Ironisnya, para pedagang harus berjualan tanpa fasilitas yang layak. Tidak ada bangunan permanen, tidak ada tempat berteduh, bahkan tidak tersedia tempat duduk yang memadai.

Saat matahari menyengat, mereka harus bertahan di bawah terik yang membakar kulit. Ketika gerimis turun atau hujan mengguyur, mereka hanya bisa pasrah menyelamatkan dagangan seadanya.

Fakta ini memunculkan pertanyaan besar. Di tengah gencarnya program pemberdayaan UMKM, perlindungan pedagang kecil, dan berbagai slogan kesejahteraan rakyat, mengapa keberadaan para pejuang ekonomi keluarga ini masih terabaikan?

Mereka bukan pengusaha besar. Mereka bukan pemilik modal raksasa. Mereka adalah rakyat kecil yang setiap hari bergelut dengan lumpur, sungai, dan rawa demi menghidupi keluarga. Namun hingga kini, belum terlihat adanya fasilitas sederhana berupa tempat berteduh atau area jual beli yang layak bagi mereka.

Publik pun berhak bertanya: 

Ke mana suara para pejabat yang setiap lima tahun sekali datang meminta dukungan rakyat? Ke mana janji-janji yang dahulu diucapkan lantang tentang keberpihakan kepada wong cilik?

Para pedagang ikan tradisional di selatan Jembatan Mborow tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka tidak meminta proyek miliaran rupiah. Mereka hanya berharap ada perhatian nyata berupa fasilitas sederhana yang dapat melindungi mereka dari panas dan hujan saat mencari nafkah.

Di tengah derasnya arus pembangunan dan berbagai proyek infrastruktur yang terus berjalan, nasib para pedagang ikan tradisional ini menjadi cermin bahwa masih ada kelompok masyarakat kecil yang menunggu sentuhan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Sementara itu, cucuran keringat para pedagang terus menetes di bawah terik matahari. Dan di antara lapak-lapak sederhana itu, tersimpan harapan yang belum juga terjawab: 

Kapan pemerintah benar-benar hadir untuk mereka, bukan sekadar saat musim kampanye tiba?

(Sumadi)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html