MILAD LAMR KE-56 Jadi Alarm Keras! Pemuda Melayu Rokan Hilir Tantang Generasi Muda Turun Bela Tanah Ulayat Sebelum Terlambat
Peringatan tersebut mendapat perhatian serius dari Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu Rokan Hilir. Organisasi yang menghimpun pemuda dan mahasiswa asal Negeri Seribu Kubah itu menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan LAMR dalam mempertahankan hak adat, tanah ulayat, serta pelestarian budaya Melayu di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.
Ketua Umum Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu Rokan Hilir menegaskan bahwa usia 56 tahun LAMR merupakan bukti konsistensi lembaga adat tersebut menjaga marwah Melayu Riau.
"Atas nama seluruh pengurus dan anggota, kami mengucapkan Selamat Milad ke-56 LAMR. Ini bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum refleksi. Pemuda Melayu harus siap menyambung estafet perjuangan adat dan budaya yang telah dirintis para pendahulu," ujarnya.
Tanah Ulayat Riau Terancam, Pemuda Diminta Tidak Sekadar Menonton
Sorotan tajam disampaikan menyikapi pernyataan Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri Taufik yang mengungkap masih minimnya riset lokal terkait tanah ulayat di Provinsi Riau.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi besar. Di saat Riau menjadi salah satu daerah prioritas pengakuan hak ulayat oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), justru kajian dan data mengenai tanah adat lebih banyak dikuasai pihak luar.
"Ini tamparan bagi kita semua. Bagaimana mungkin tanah ulayat Melayu hendak diperjuangkan, sementara data dan kajiannya justru dikuasai orang luar? Milad ke-56 harus menjadi alarm keras bagi generasi muda untuk turun langsung mempelajari adat, melakukan riset, dan ikut memetakan wilayah ulayat," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa ancaman terhadap eksistensi tanah adat bukan sekadar persoalan lahan, melainkan menyangkut identitas dan masa depan masyarakat Melayu.
"Kalau pemuda tidak memahami adat dan tidak peduli terhadap ulayat hari ini, maka 20 hingga 30 tahun ke depan kita hanya akan menjadi penonton di tanah sendiri," katanya.
Literasi Adat Dinilai Kalah Cepat dengan Arus Digital
Selain isu ulayat, Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu Rokan Hilir juga menyoroti tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni semakin menurunnya literasi budaya di kalangan generasi muda.
Karena itu, mereka menyambut positif langkah LAMR yang menggandeng Radio Republik Indonesia (RRI) Riau untuk menyiarkan program budaya secara rutin dua kali dalam sepekan.
Menurutnya, strategi tersebut menjadi langkah cerdas untuk memperluas syiar budaya Melayu kepada generasi digital yang lebih akrab dengan gawai dibandingkan kitab-kitab adat.
"Anak muda sekarang melek teknologi, tetapi banyak yang mulai asing dengan akar budayanya sendiri. Program budaya melalui RRI dapat menjadi jembatan penting agar nilai-nilai Melayu tetap hidup dan dikenal generasi baru," ujarnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga mengapresiasi berbagai kegiatan yang digagas Puan LAMR seperti bengkel pantun, bazar UMKM, dan program budaya lainnya yang dinilai mampu menghadirkan pelestarian adat secara lebih kreatif dan relevan.
Desak LAMR Masuk Dunia Digital
Dalam pernyataannya, organisasi pemuda tersebut juga mendorong LAMR agar lebih agresif memasuki ruang digital yang kini menjadi arena utama generasi muda.
Mereka mengusulkan pengembangan podcast adat, video pendek pantun Melayu, kelas budaya daring, hingga konten edukasi berbasis media sosial agar pesan-pesan adat tidak hanya berputar di ruang-ruang formal.
"Budaya Melayu harus hadir di layar ponsel anak muda. Jika tidak masuk ke ruang digital, maka budaya akan kalah cepat dengan arus informasi global yang terus bergerak setiap detik," ungkapnya.
Pemuda Rokan Hilir Nyatakan Siap Jadi Garda Terdepan
Menutup pernyataannya, Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu Rokan Hilir menyatakan komitmen untuk bersinergi dengan LAMR dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya Melayu.
Sebagai daerah yang berada di wilayah strategis dan berbatasan langsung dengan berbagai kawasan pesisir, Rokan Hilir dinilai menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas budaya lokal.
"Pemuda Rokan Hilir tidak boleh hanya menjadi penonton. Kami siap belajar dari para datuk, siap menjaga tanah ulayat, dan siap menyiarkan budaya Melayu di mana pun berada," tegasnya.
Mereka berharap Milad ke-56 menjadi titik kebangkitan baru bagi LAMR untuk semakin kuat memperjuangkan hak-hak adat sekaligus merangkul generasi muda sebagai pewaris masa depan Melayu Riau.
"Selamat Milad ke-56 LAMR. Adat kami jaga, ulayat kami bela, budaya kami syiarkan. Melayu Riau harus tetap berdiri tegak di tanahnya sendiri."
(Jismar)


0 Komentar