HIMIKA Universitas An Nuur Gelar Workshop Nasional Basic Life Support Berbasis American Heart Association
Workshop ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan untuk memperbarui wawasan mengenai penanganan kegawatdaruratan sekaligus berbagi pengalaman terkait situasi darurat yang sering ditemui di lapangan. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya terkait penanganan kondisi darurat seperti keracunan dan henti jantung.
Ketua Pelaksana, Rovi Agastya, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan diikuti oleh 350 peserta, terdiri dari 270 peserta yang hadir secara langsung dan 80 peserta yang mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Universitas An Nuur, para dosen, pembina HIMIKA, seluruh panitia, sponsor, media partner, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum HIMIKA, Muhammad Malik Nugroho, menegaskan pentingnya penguasaan keterampilan Basic Life Support (BLS) bagi mahasiswa kesehatan dan generasi muda.
"Kondisi kegawatdaruratan medis seperti henti jantung atau tersedak dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Sebagai mahasiswa kesehatan dan generasi muda, kita tidak hanya dituntut memiliki empati, tetapi juga kemampuan nyata dalam memberikan pertolongan. Karena itu, kegiatan ini sangat penting bagi kita semua," katanya.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya karena peserta mendapatkan materi langsung dari Nelly Hermala Dewi, S.Kp., M.Kep, instruktur berpengalaman dari Pro Emergency, lembaga profesional yang bergerak di bidang pelayanan, simulasi, dan pelatihan kegawatdaruratan medis (EMS/Emergency Medical Services).
Dekan Fakultas Sains dan Kesehatan Universitas An Nuur, Ns. Meity Mulya Susanti, M.Kes, memberikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Ia menekankan bahwa mahasiswa kesehatan harus memiliki kompetensi yang memadai dalam memahami Basic Life Support, komunikasi efektif, serta keterampilan menghadapi situasi kegawatdaruratan.
"Saya berharap peserta, baik yang mengikuti secara offline maupun online, tidak ragu untuk bertanya dan berani mempraktikkan materi yang diperoleh pada sesi drill maupun simulasi," ungkapnya.
Dalam pemaparannya, Nelly Hermala Dewi, S.Kp., M.Kep menjelaskan bahwa prioritas utama pembaruan pedoman American Heart Association (AHA) 2025 adalah meningkatkan angka keselamatan pasien henti jantung melalui respons cepat, pelaksanaan resusitasi jantung paru (RJP) berkualitas tinggi, serta percepatan penggunaan Automated External Defibrillator (AED).
Menurutnya, keberhasilan penanganan pasien sangat bergantung pada kerja sama tim yang solid, pembagian tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, serta pelatihan yang menyeluruh bagi penolong awam maupun tenaga medis.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan demonstrasi dan simulasi yang melibatkan pemateri, tim instruktur, serta peserta workshop secara langsung. Hal ini dilakukan agar peserta benar-benar memahami dan mampu mempraktikkan teknik Basic Life Support sesuai standar terkini.
Seluruh peserta mengikuti rangkaian teori dan simulasi penanganan kegawatdaruratan jantung secara interaktif. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami materi Basic Life Support secara komprehensif, menerapkan algoritma resusitasi terbaru, meminimalkan jeda interupsi kompresi kurang dari 10 detik, serta menerapkan komunikasi closed-loop yang efektif dalam kerja tim penanganan kegawatdaruratan.
(Sumadi)


0 Komentar