Haji Disambut Meriah, Pohon Ditanam, Tapi Persoalan Warga Belum Usai
Namun di balik padatnya agenda seremonial tersebut, muncul pertanyaan yang layak diajukan publik: sejauh mana kegiatan-kegiatan itu benar-benar menyentuh persoalan mendasar masyarakat?
Data lapangan menunjukkan lebih dari 1.100 jamaah haji asal Kabupaten Pati dipulangkan melalui empat kloter berbeda menggunakan total 29 armada bus pariwisata. Proses penyambutan dipusatkan di halaman Setda Kabupaten Pati sejak dini hari hingga malam hari.
Di saat bersamaan, pemerintah juga menggelar kegiatan donor darah dan senam bersama di Mall Pelayanan Publik (MPP), penanaman pohon bersama Kapolresta Pati di wilayah Banyuurip, serta Open House satu tahun Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 12 Pati.
Bagi sebagian kalangan, padatnya agenda tersebut menunjukkan pemerintah dan institusi negara hadir di tengah masyarakat. Namun bagi sebagian lainnya, rangkaian kegiatan itu dinilai masih didominasi aktivitas seremonial yang minim dampak langsung terhadap problem sehari-hari warga.
"Kegiatan seperti ini memang baik, tetapi masyarakat juga menunggu solusi konkret terkait persoalan ekonomi, lapangan kerja, jalan rusak, hingga sektor pertanian," ujar seorang warga yang ditemui di wilayah Margorejo.
Sorotan juga mengarah pada kegiatan penanaman pohon yang rutin dilakukan menjelang Hari Bhayangkara. Pertanyaan yang muncul bukan pada seremoni penanaman, melainkan pada keberlanjutan program tersebut. Berapa banyak pohon yang ditanam tahun-tahun sebelumnya masih hidup dan terawat? Apakah ada evaluasi pasca-penanaman?
Hal serupa terjadi pada kegiatan donor darah dan bakti sosial. Program tersebut mendapat apresiasi masyarakat karena bernilai sosial tinggi. Namun publik berharap kegiatan kemanusiaan tidak hanya menjadi agenda tahunan yang ramai saat dokumentasi berlangsung, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang dampaknya dapat diukur.
Sementara itu, perhatian masyarakat juga tertuju pada kepulangan jamaah haji yang menjadi momentum penuh haru. Ribuan keluarga menyambut anggota keluarganya yang kembali dari Tanah Suci. Momentum spiritual ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan publik yang baik bukan hanya terlihat saat acara penyambutan, tetapi juga dalam pelayanan sehari-hari yang dirasakan masyarakat luas.
Di tengah maraknya agenda dan seremoni yang berlangsung hampir bersamaan, satu pertanyaan tetap menggantung: apakah keberhasilan sebuah kegiatan diukur dari ramainya acara dan banyaknya pejabat yang hadir, atau dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat setelah acara selesai?
Data kepulangan jamaah haji Kabupaten Pati yang terdiri dari Kloter SOC-50 hingga SOC-53 memang sesuai dengan jadwal pemulangan jamaah haji Jawa Tengah tahun 2026 yang berlangsung bertahap melalui Debarkasi Solo.
(Sumadi)



0 Komentar