Empat Nyawa Melayang, Untuk Apa Manajer Koperasi Dilatih Ala Militer?
Secara faktual, Kementerian Pertahanan memang telah mengonfirmasi bahwa Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat gangguan pernapasan saat mengikuti Latsarmil di Satdik Yon Parako 465. Dengan demikian, jumlah peserta SPPI yang meninggal selama pelaksanaan program tersebut menjadi empat orang.
Perdebatan mengenai relevansi latihan dasar kemiliteran bagi calon manajer koperasi merupakan isu kebijakan publik yang wajar untuk didiskusikan. Di satu sisi, pemerintah menyatakan bahwa unsur kedisiplinan, kepemimpinan, dan pembentukan karakter menjadi alasan dimasukkannya materi kemiliteran dalam program tersebut, serta telah menjanjikan evaluasi setelah munculnya sejumlah kasus kematian peserta.
Di sisi lain, sejumlah akademisi dan pengamat mempertanyakan kesesuaian pendekatan itu dengan tugas utama manajer koperasi yang lebih berfokus pada:
- pengelolaan usaha dan keuangan;
- akuntansi dan administrasi koperasi;
- pemasaran produk dan digitalisasi;
- pelayanan anggota;
- pengambilan keputusan secara musyawarah dan demokratis;
- pengembangan kewirausahaan di tingkat desa.
Argumen kritis yang berkembang menyatakan bahwa pelatihan fisik dan kemiliteran yang intensif belum tentu memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi tersebut. Sebaliknya, waktu pelatihan dapat diarahkan lebih besar pada penguatan kapasitas manajerial, bisnis, dan tata kelola koperasi yang partisipatif.
Namun demikian, perlu dibedakan antara kritik terhadap desain program dengan penghormatan kepada para peserta dan keluarganya. Evaluasi yang objektif sebaiknya mencakup beberapa hal:
- Kelayakan dan proporsi materi Latsarmil bagi peserta sipil.
- Standar pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama pelatihan.
- Mekanisme penghentian aktivitas ketika peserta menunjukkan gejala gangguan kesehatan.
- Kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan nyata pengelolaan koperasi desa.
- Alternatif pembentukan karakter melalui pendekatan sipil profesional, seperti leadership camp, outbound, team building, dan pelatihan kewirausahaan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang banyak muncul di masyarakat adalah: apakah tujuan membangun manajer koperasi yang profesional lebih efektif dicapai melalui latihan dasar kemiliteran selama 30 hari, atau melalui penguatan kompetensi bisnis, kepemimpinan partisipatif, dan demokrasi koperasi yang lebih mendalam? Pertanyaan tersebut layak dijawab melalui evaluasi berbasis data, pengalaman lapangan, dan keselamatan peserta sebagai prioritas utama.
(Sumadi)


0 Komentar