Di Tengah Modernisasi, Sedekah Bumi Kunduran Tetap Jadi Magnet Kebersamaan Warga

Ribuan Warga Padati Sedekah Bumi Kunduran, Tradisi Leluhur yang Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

BLORA – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi Sedekah Bumi di Kelurahan Kunduran, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, masih bertahan dan menjadi perekat kebersamaan warga. Kamis (18/6/2026), ribuan warga tumpah ruah mengikuti Gebyar Sedekah Bumi yang berlangsung meriah sejak pagi hari.


Kegiatan diawali dengan kirab budaya yang mengambil start dari depan Kantor Kelurahan Kunduran menuju Punden Asem Gede, lokasi yang selama ini menjadi pusat pelaksanaan ritual tradisi Sedekah Bumi. Sepanjang rute kirab, masyarakat memadati sisi jalan untuk menyaksikan berbagai pertunjukan budaya yang ditampilkan.

Gunungan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen melengkapi kemeriahan kirab. Berbagai kesenian tradisional seperti barongan dan drumband turut memeriahkan suasana, mencerminkan kekayaan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Kunduran.

Lurah Kunduran, Kasiyanto, bersama perangkat kelurahan turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hadir pula anggota DPRD Kabupaten Blora, Jamhuri, yang memberikan apresiasi atas semangat masyarakat dalam menjaga tradisi warisan leluhur tersebut.

Menurut Jamhuri, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan simbol kuat kebersamaan dan identitas masyarakat yang harus terus dijaga.

"Tradisi ini mengandung nilai gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan yang sangat penting untuk diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.

Selain kirab budaya, panitia juga menghadirkan hiburan rakyat berupa pertunjukan ketoprak yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tak hanya hiburan, kegiatan juga diisi dengan tausiah keagamaan yang memberikan pesan moral dan spiritual sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menariknya, tradisi Sedekah Bumi di berbagai daerah kini menghadapi tantangan besar akibat perubahan sosial dan berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Namun kondisi berbeda terlihat di Kunduran. Antusiasme masyarakat yang tinggi menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial warga.

Bagi masyarakat Kunduran, Sedekah Bumi bukan hanya seremoni budaya, melainkan momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur.

Puncak acara yang dipusatkan di Punden Asem Gede berlangsung khidmat dan penuh makna. Kehadiran tokoh masyarakat, tokoh agama, unsur pemerintah, hingga berbagai kelompok warga menunjukkan bahwa tradisi ini masih menjadi ruang bersama yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat.

Gebyar Sedekah Bumi Kunduran 2026 kembali membuktikan bahwa warisan budaya lokal tidak harus kalah oleh perkembangan zaman. Justru di tengah perubahan yang terus berlangsung, tradisi seperti inilah yang menjadi penanda identitas dan kekuatan sosial masyarakat pedesaan.

(Yanto)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html