Candi Panca Bala Diresmikan, Perkuat Kerukunan Umat dan Spirit Toleransi di Kabupaten Pati
Sanipata Waisak KBTI 2026 di Desa Giling dihadiri ratusan umat Buddha, tokoh agama, pemerintah, serta unsur TNI-Polri sebagai simbol harmoni dan kebersamaan.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 12.45 WIB hingga 16.15 WIB tersebut dihadiri sekitar 550 peserta yang terdiri atas umat Buddha, tokoh agama, unsur pemerintah, aparat TNI-Polri, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan Tari Gambyong, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama oleh Bhikkhu Sangha, laporan panitia, sambutan para tamu undangan, paduan suara, penyampaian pesan Dhamma, hingga prosesi peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemberkahan Candi Panca Bala.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pati, KH. Ahmad Manhadjusidad Sonhaji, Lc., menyampaikan apresiasi atas berdirinya Candi Panca Bala yang dinilai sebagai simbol nyata kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Keberadaan candi ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah dan pembinaan umat, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan serta memperkuat harmoni sosial di Kabupaten Pati,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Kesbang Kabupaten Pati Rully Kristyanningsih menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung seluruh kegiatan keagamaan sebagai bentuk penghormatan terhadap kebebasan beribadah dan implementasi nilai-nilai kebhinekaan.
“Pemerintah Kabupaten Pati mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kondusivitas wilayah, memperkuat toleransi, dan bersama-sama menciptakan kehidupan yang aman, damai, serta harmonis,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bhante Sujano mengajak umat Buddha untuk terus mengamalkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan kepedulian sosial, dan menjaga persaudaraan dengan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, Candi Panca Bala diharapkan dapat berkembang menjadi pusat pembinaan spiritual sekaligus destinasi wisata religi yang memperkaya khazanah budaya dan keberagaman di Kabupaten Pati.
“Semoga tempat ini menjadi ruang pembelajaran, pelestarian budaya, dan penguatan semangat kebersamaan bagi seluruh masyarakat,” tuturnya.
Pelaksanaan Sanipata Waisak KBTI 2026 juga menjadi momentum konsolidasi umat Buddha melalui kegiatan meditasi bersama, pembacaan paritta, serta refleksi spiritual untuk memperdalam penghayatan ajaran Buddha.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Kehadiran unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat menjadi bukti nyata sinergi dalam menjaga kerukunan serta stabilitas sosial di wilayah Kabupaten Pati.
Peresmian Candi Panca Bala sekaligus menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus dirawat demi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis, toleran, dan sejahtera.
(Rusmin)




0 Komentar