Sedekah Bumi Koripandriyo Pecah! Ribuan Warga Tumpah Ruah Jaga Tradisi Leluhur
Sejak pagi hari, ribuan warga memadati ruas jalan desa. Mereka tampil mengenakan pakaian adat Jawa, mulai dari lurik hingga kebaya tradisional. Suasana semakin semarak dengan iring-iringan kirab budaya, kendaraan hias, hingga mobil bak terbuka yang membawa sound system untuk mengiringi arak-arakan keliling desa.
Kirab budaya dimulai dari gapura Desa Koripandriyo sekitar pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga selesai. Gunungan hasil bumi berisi padi, palawija, buah-buahan, hingga sayuran diarak keliling kampung sebagai simbol kemakmuran dan doa keselamatan bagi masyarakat.
Antusiasme warga terlihat saat prosesi perebutan gunungan berlangsung. Mereka meyakini hasil bumi yang dibawa pulang mengandung berkah dan harapan baik untuk kehidupan serta pertanian mereka ke depan.
Kepala Desa Koripandriyo, Sukahar, mengatakan tradisi Sedekah Bumi merupakan warisan leluhur yang harus dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan ruang pemersatu masyarakat lintas generasi.
“Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan keselamatan yang diberikan kepada warga desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus menjaga kerukunan dan semangat gotong royong masyarakat,” ujar Sukahar.
Ia juga menegaskan bahwa kirab budaya akan terus dipertahankan dalam setiap pelaksanaan Sedekah Bumi di tahun-tahun mendatang. Sukahar secara khusus mengapresiasi peran aktif Karang Taruna yang dinilai menjadi motor penggerak kegiatan kepemudaan di desa.
“Saya berterima kasih kepada Karang Taruna yang selalu memberikan ide-ide terbaik dan antusias dalam setiap kegiatan. Saya berharap Karang Taruna bisa menjadi pelopor bagi generasi muda dalam menjaga budaya desa,” imbuhnya.
Ketua Karang Taruna Koripandriyo, Masrifan, menyebut Sedekah Bumi bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial warga yang selama ini mulai tergerus perkembangan zaman.
“Setiap tahun selalu ramai. Selain ngalap berkah, ini juga menjadi ajang berkumpul seluruh warga, dari anak-anak sampai orang tua,” katanya.
Rangkaian acara Sedekah Bumi turut diisi doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan sesepuh desa, kenduri bersama, hingga hiburan rakyat berupa pentas ketoprak Sidodadi Budoyo dengan lakon Babat Tanah Pati. Penampilan seni dari anak-anak sekolah dasar juga menjadi perhatian tersendiri dan mendapat sambutan hangat masyarakat.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Sedekah Bumi di Koripandriyo menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Bukan hanya sebagai tontonan tahunan, namun juga sebagai identitas desa sekaligus perekat sosial yang terus hidup dari generasi ke generasi.
(Arikha)




0 Komentar