Penyerahan Tombak Ki Preret, Jejak Warisan Kalisoka dalam Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-425
SLAWI- Prosesi sakral penyerahan Tombak Ki Preret menjadi salah satu rangkaian paling khidmat dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-425 Tahun 2026, Senin (18/5/2026). Ritual budaya yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kabupaten Tegal itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol kesinambungan sejarah, legitimasi moral, dan penghormatan terhadap akar tradisi masyarakat Tegal.
Dalam tradisi masyarakat Tegal bagian selatan, khususnya wilayah Kalisoka, Tombak Ki Preret diyakini bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol kepemimpinan, keberanian, dan amanah leluhur. Berdasarkan penelusuran sejarah lisan masyarakat Kalisoka, pusaka tersebut telah diwariskan turun-temurun oleh para sesepuh sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang berkaitan erat dengan sejarah awal perkembangan wilayah Tegal.
Sejumlah budayawan Tegal menyebut nama “Ki Preret” memiliki keterkaitan dengan tokoh pengawal wilayah pada masa transisi kekuasaan Mataram Islam di pesisir utara Jawa. Meski dokumentasi tertulis mengenai asal-usul pusaka masih terbatas, tradisi oral masyarakat tetap menjaga legitimasi historisnya melalui ritual tahunan dan penghormatan adat.
Dalam konteks budaya Jawa, tombak pusaka memiliki makna filosofis yang dalam. Ia tidak dipahami sebagai senjata fisik semata, tetapi lambang “wahyu kepemimpinan” dan penjaga marwah daerah. Karena itu, penyerahan Tombak Ki Preret kepada kepala daerah setiap Hari Jadi Kabupaten Tegal dimaknai sebagai pengingat bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan amanah, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat.
Bupati Tegal, H. Ishak Maulana Rohman, dalam sambutannya menyampaikan penghormatan kepada para sesepuh Kalisoka yang dinilai konsisten menjaga nilai budaya dan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.
“Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi pengikat moral masyarakat Kabupaten Tegal. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga kearifan lokal sebagai identitas daerah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan doa dan penghormatan kepada para sesepuh Kalisoka agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang dalam menjaga nilai-nilai budaya masyarakat Tegal.
Prosesi budaya tersebut dihadiri Forkopimda Kabupaten Tegal, Ketua DPRD Kabupaten Tegal, para camat se-Kabupaten Tegal, kepala desa, kepala sekolah tingkat SMP dan SMA, tokoh agama, ulama, budayawan, keluarga besar Kalisoka, serta masyarakat umum. Turut hadir pula Bupati Brebes dan Bupati Pemalang yang ikut menyaksikan jalannya ritual budaya tersebut.
Dari hasil penelusuran literasi sejarah daerah, tradisi penyerahan pusaka dalam peringatan hari jadi daerah sebenarnya telah lama berkembang di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Namun, di Kabupaten Tegal, ritual Tombak Ki Preret memiliki kekhasan karena melibatkan langsung unsur masyarakat adat dan garis sesepuh Kalisoka sebagai penjaga warisan budaya.
Di tengah derasnya modernisasi dan pergeseran budaya generasi muda, prosesi seperti ini menjadi penting untuk menjaga kesinambungan identitas lokal. Para peneliti budaya menilai ritual pusaka bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan medium pendidikan sejarah dan penguatan karakter masyarakat.
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-425 tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi seremoni administratif pemerintahan, tetapi juga ruang refleksi sejarah tentang hubungan antara kekuasaan, budaya, dan masyarakat yang telah terjalin selama berabad-abad di tanah Tegal.
(Yati)




0 Komentar