Nobar Film “Pesta Babi” di Pati Jadi Ruang Diskusi Kritis Pelajar NU soal Papua dan Lingkungan

PATI — Pemutaran film dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi yang digelar PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati, Sabtu malam (16/5/2026), berkembang menjadi forum diskusi kritis mengenai isu lingkungan, kebebasan berpendapat, dan dampak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Gedung PC IPNU IPPNU Pati, Jalan Dr. Susanto No. 04, Kutoharjo, Kabupaten Pati itu diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan pelajar dan aktivis organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama.

Acara dimulai pukul 20.42 WIB hingga 22.53 WIB dengan agenda nonton bareng (nobar) film Pesta Babi, dilanjutkan diskusi terbuka yang dipandu moderator Zakia. Kegiatan tersebut berada di bawah penanggung jawab Ketua PC IPNU Pati, Abdul Khorib.

Hadir dalam kegiatan antara lain pemantik diskusi Mirza, Syaiful Huda dari Aspirasi/AMPB, Naufar Yazid dari PC Ansor Pati, serta anggota IPNU-IPPNU Kabupaten Pati.

Dalam pengantarnya, moderator menyebut film karya jurnalis dokumenter Dandhy Laksono tersebut menyoroti realitas sosial di balik pembangunan PSN di Papua Selatan.

“Film ini menggambarkan dampak pembangunan terhadap masyarakat dan lingkungan di Papua,” ujar Zakia di hadapan peserta.

Film Pesta Babi sendiri merupakan dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale yang membahas persoalan deforestasi, ekspansi agribisnis, hingga perubahan ruang hidup masyarakat adat Papua Selatan.

Dalam sesi diskusi, pemantik Mirza menegaskan bahwa kegiatan nobar bukan bentuk tindakan terlarang karena film tersebut dapat diakses secara terbuka dan tidak dilarang pemerintah.

Ia juga menilai karya-karya dokumenter seperti Sexy Killers, Dirty Vote, hingga Pesta Babi merupakan bentuk kritik sosial berbasis fakta lapangan dan kerja jurnalistik investigatif.

“Baik atau buruk isi film adalah gambaran realitas yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.

Diskusi kemudian berkembang pada isu keberanian generasi muda dalam menyuarakan keresahan sosial. Mirza menyebut generasi muda saat ini, khususnya generasi Z, memiliki kepedulian lingkungan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Menurutnya, forum seperti nobar dan diskusi menjadi ruang pendidikan sosial yang penting agar anak muda tidak hanya menjadi “silent majority” yang pasif terhadap persoalan publik.

Sejumlah peserta juga menyampaikan pandangan kritis. Ali dari IPNU menyebut semangat keberanian yang ditunjukkan Dandhy Laksono perlu menjadi inspirasi pemuda Pati dalam membangun kepedulian sosial dan keberanian menyampaikan aspirasi masyarakat.

Ia bahkan menyinggung dinamika gerakan sosial di Kabupaten Pati yang sempat menjadi perhatian nasional pasca aksi massa pada Agustus tahun lalu.

Sementara itu, peserta lain bernama Isti dari IPPNU mengaku baru mengetahui berbagai persoalan sosial di Papua setelah menyaksikan film tersebut.

“Ternyata kehidupan di sana memiliki dinamika sosial yang keras,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi keberanian panitia menggelar forum diskusi yang dinilai membuka ruang kesadaran baru bagi pelajar NU terhadap isu lingkungan dan sosial.

Meski memuat narasi kritik terhadap kebijakan pembangunan nasional, kegiatan berlangsung aman dan kondusif tanpa adanya tindakan represif dari aparat keamanan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aparat intelijen dan aparat penegak hukum tetap melakukan pemantauan secara persuasif sebagai langkah deteksi dini terhadap dinamika diskusi publik yang berkembang di kalangan pelajar dan aktivis muda.

Pengamat sosial menilai, munculnya forum-forum diskusi semacam ini menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap isu keadilan ekologis, hak masyarakat adat, dan demokrasi partisipatif.

“Fenomena ini memperlihatkan pelajar dan pemuda mulai aktif membangun ruang literasi kritis di luar forum formal pendidikan,” ujar seorang pengamat gerakan sosial di Pati.

Kegiatan nobar tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana organisasi pelajar berbasis keagamaan mulai membuka ruang diskusi terhadap isu-isu nasional yang selama ini dianggap sensitif, namun tetap dikemas dalam pendekatan literasi, dialog, dan edukasi sosial.

(Red.)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html