Dokter Spesialis Turun ke Desa, Program “Speling” di Bakaran Wetan Jadi Harapan Baru Warga Pesisir Pati
Namun di balik kegiatan seremonial yang berlangsung aman dan tertib tersebut, tersimpan fakta yang menjadi sorotan: masih banyak masyarakat akar rumput yang selama ini kesulitan menjangkau layanan dokter spesialis karena faktor biaya, jarak, dan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB di Balai Desa Bakaran Wetan itu dihadiri sejumlah pejabat dan tenaga medis spesialis. Hadir di antaranya Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Sugiarto, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Moh. Dhofar, Direktur Rumah Sakit Budi Agung dr. Joko Subiyono, Camat Juwana Sunaryo, hingga unsur Forkopimcam Juwana.
Program Speling sendiri disebut sebagai salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendekatkan layanan kesehatan spesialis langsung ke masyarakat desa.
Dalam sambutannya, Moh. Dhofar menegaskan bahwa program ini dibuat agar masyarakat tidak perlu datang jauh ke rumah sakit hanya untuk mendapatkan pemeriksaan dokter spesialis.
“Program ini bertujuan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat serta membantu deteksi dini penyakit agar penanganannya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Persoalan Lama: Warga Desa Sulit Akses Dokter Spesialis
Meski program ini mendapat apresiasi warga, fakta di lapangan menunjukkan layanan dokter spesialis di daerah pedesaan masih menjadi persoalan serius.
Banyak warga di wilayah pesisir seperti Juwana mengaku selama ini harus pergi ke kota dengan biaya tidak sedikit hanya untuk memeriksakan penyakit tertentu. Tidak sedikit pula yang menunda pemeriksaan karena keterbatasan ekonomi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keterlambatan diagnosis sering berujung pada memburuknya kondisi kesehatan masyarakat.
Dalam kegiatan itu, layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan dokter spesialis anak, kandungan, dan penyakit dalam. Tenaga medis yang diterjunkan antara lain dr. Akhmadi Arief, Sp.OG., dr. Anzar Ahllan, Sp.A., serta dr. Elizabeth Fajar, Sp.PD.
Usai pembukaan, warga langsung memadati area pemeriksaan kesehatan untuk berkonsultasi dan mendapatkan layanan medis gratis.
Antusias Tinggi, Tapi Warga Berharap Tidak Sekadar Seremonial
Antusiasme warga terlihat tinggi. Sebagian besar berharap program seperti ini tidak berhenti sebagai agenda simbolis atau kegiatan musiman semata.
Sejumlah warga menyebut layanan kesehatan spesialis gratis sangat membantu, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini kesulitan menjangkau rumah sakit besar.
“Kalau bisa rutin, karena selama ini kami kadang takut periksa karena biaya mahal,” ujar salah satu warga yang hadir.
Program Speling juga dinilai menjadi bentuk sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, fasilitas kesehatan, hingga pemerintah desa dalam memperkuat pelayanan dasar masyarakat.
Namun demikian, pengamat kesehatan menilai program jemput bola seperti ini perlu dibarengi penguatan fasilitas kesehatan tingkat bawah agar penanganan pasien tidak berhenti hanya pada pemeriksaan awal.
Pemerintah Diminta Pastikan Keberlanjutan Program
Kehadiran dokter spesialis langsung di desa memang menjadi angin segar bagi masyarakat. Akan tetapi, tantangan sesungguhnya terletak pada keberlanjutan program dan tindak lanjut penanganan pasien.
Sebab, tanpa sistem rujukan yang kuat dan dukungan fasilitas memadai, layanan keliling berisiko hanya menjadi solusi jangka pendek.
Dalam kegiatan tersebut, aparat intelijen bersama instansi terkait turut melakukan monitoring guna memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.
Secara umum, kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Kini publik menunggu: apakah Program Speling benar-benar akan menjadi solusi nyata pemerataan layanan kesehatan di desa, atau hanya sekadar program populis yang ramai di awal namun redup dalam pelaksanaannya?
(Arikha)



0 Komentar