“Janji Tinggal Janji: FORSA SSB Demak Siap Gelar Aksi Teatrikal ‘Tampar’ DPRD”
Koordinator FORSA SSB Kabupaten Demak, Sunarto, HS, SE, menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar kelalaian, tetapi sudah mengarah pada bentuk inkonsistensi yang merugikan.
“Jangan anggap ini sekadar wacana. Janji itu ada konsekuensinya. Kalau terus diingkari, ini bukan cuma soal moral, tapi bisa masuk ranah hukum,” tegasnya dengan nada geram.
Ironisnya, di tengah gembar-gembor pembangunan dan perhatian pada generasi muda, SSB justru seperti anak tiri. Padahal, dari lapangan-lapangan sederhana inilah mimpi-mimpi besar anak-anak Demak mulai dibentuk. Namun yang mereka terima bukan fasilitas atau pembinaan, melainkan janji yang terus digeser seperti bola liar tanpa arah.
“Anak-anak butuh kepastian, bukan janji yang diulur-ulur. Ini masa depan mereka yang dipertaruhkan,” lanjut Sunarto.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: di mana keseriusan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan? Apakah pembinaan usia dini hanya dijadikan jargon saat seremonial, lalu dilupakan begitu saja?
Sebagai bentuk akumulasi kekecewaan, FORSA SSB Kabupaten Demak memastikan akan turun ke jalan. Bukan sekadar orasi, mereka akan menggelar aksi unjuk rasa sekaligus pentas teatrikal di depan Kantor DPRD Kabupaten Demak pada Jumat Legi, 24 April 2026, pukul 09.00 WIB.
Aksi ini bukan sekadar simbol, tetapi sindiran keras. Teatrikal akan menjadi “cermin” dari realita pahit yang selama ini mereka alami—janji yang diucapkan lantang, namun lenyap tanpa jejak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Demak bukan hanya kehilangan kepercayaan dari pelaku olahraga akar rumput, tetapi juga berpotensi mematikan bibit-bibit pesepak bola yang seharusnya bisa bersinar di masa depan.
Pesannya jelas: jangan obral janji jika tak mampu menepati. Karena di balik setiap janji, ada harapan anak-anak yang sedang diperjuangkan—dan kini mulai dikhianati.
Masyarakat berharap adanya perhatian khusus dari para pemangku kebijakan di Kabupaten Demak agar segera menindaklanjuti keresahan para penggiat sepak bola tersebut. Hal ini penting agar bibit-bibit unggul atlet sepak bola di masa depan tidak musnah akibat kurangnya dukungan dan pembinaan.
(Sutarso)




0 Komentar