Janji Manis Gula, Realitas Pahit Petani Tebu di Blora

BLORA— Ribuan petani tebu di Kabupaten Blora turun ke Alun-alun, Kamis (2/4/2026). Mereka yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia datang bukan untuk seremoni, melainkan menagih kepastian kepada Perum Bulog terkait penyerapan hasil panen tebu. 



Aksi tersebut dilatarbelakangi kebingungan petani mengenai ke mana hasil tebu mereka akan disalurkan. Di atas kertas, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 yang menargetkan swasembada gula nasional. Namun di lapangan, para petani justru menghadapi ketidakpastian, mulai dari belum jelasnya pabrik yang akan menggiling hingga mekanisme penyerapan hasil panen.

Bagi petani, persoalan ini bukan sekadar teknis. Waktu panen tebu sangat menentukan kualitas dan harga. Jika terlambat digiling, rendemen gula turun dan harga ikut merosot. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi petani. ⏳

Harapan sempat tertuju pada Pabrik Gula GMM Todanan yang diharapkan menjadi solusi penyerapan tebu lokal. Namun hingga saat ini, kepastian jadwal giling dari pabrik tersebut belum juga diumumkan. Situasi ini membuat petani kembali mempertanyakan komitmen pihak terkait, termasuk peran pemerintah dalam menjamin stabilitas sektor pergulaan.

Petani juga menyoroti janji penyerapan oleh Perum Bulog. Mereka meminta transparansi dan kejelasan, baik terkait kapasitas penyerapan maupun skema distribusi. Tanpa informasi yang terbuka, petani merasa dibiarkan menebak-nebak nasib hasil panen mereka sendiri.

Aksi di Blora disebut bukan peristiwa mendadak. Tahun sebelumnya, sebagian hasil tebu dilaporkan tidak terserap secara optimal. Kini, kekhawatiran yang sama kembali muncul, bahkan di tengah gencarnya target swasembada gula nasional. ⚖️

Ironinya, ketika negara berbicara tentang peningkatan produksi, petani justru berjuang mencari kepastian penyerapan. Ketidaksinkronan antara target produksi dan kesiapan sistem distribusi dinilai berpotensi menjadikan swasembada gula hanya sebatas slogan.

Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Mereka menegaskan bahwa produksi bukan masalah utama, melainkan kepastian pasar dan kesiapan sistem penampungan. Jika kondisi ini terus berlanjut, petani khawatir kerugian akan berulang dan minat menanam tebu akan menurun.

Pesan yang disampaikan dalam aksi tersebut sederhana: petani sudah bergerak, kini giliran negara menunjukkan kehadirannya. đŸ‡®đŸ‡©

Writer: Yanto.

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html