x

Leluhur Jawa dan Warisan Metalurgi: Mengurai “Kode Sunan Kalijaga” sebagai Pesan Peradaban

DEMAK- Kadilangu Sejarah panjang Nusantara menyimpan jejak peradaban metalurgi yang begitu maju. Para empu Jawa kuno telah diakui sebagai maestro dalam pengolahan logam mulai dari pembuatan perhiasan, perangkat musik tradisional seperti gender dan gong, hingga senjata pusaka keris dan tombak. Kecanggihan itu terekam jelas dalam relief Candi Borobudur yang menggambarkan berbagai alat dan senjata berbahan logam.

Di antara tokoh yang kerap dikaitkan dengan tradisi metalurgi Jawa, nama Sunan Kalijaga muncul sebagai figur sentral. Meski dikenal sebagai wali penyebar Islam di tanah Jawa, berbagai legenda dan silsilah keluarga menyiratkan bahwa beliau memiliki hubungan erat dengan tradisi metalurgi yang diwariskan oleh leluhur Majapahit.



Dalam kisah pertemuan Raden Sahid nama kecil Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang, diceritakan bahwa sebuah pohon aren seketika berubah menjadi emas. Kejadian itu membuat Raden Sahid takjub dan kemudian berguru kepada Sunan Bonang. Legenda serupa juga muncul ketika Sunan Kalijaga menyadarkan Adipati Pandanaran: tanah yang dicangkul tiba-tiba berubah menjadi emas.


Sebagian masyarakat memaknai kejadian ini sebagai simbol, bukan sekadar keajaiban. Menurut interpretasi spiritual—disebut sebagai “Kode Sunan Kalijaga”—emas itu bukan materi, melainkan pesan bahwa Nusantara memiliki sumber daya alam yang kaya. Dengan kreativitas, pengetahuan, dan kebijaksanaan, masyarakat dapat mengolahnya untuk kemakmuran bangsa.



Sunan Kalijaga disebut sebagai cucu Raja Brawijaya V dari pihak ibu, Dewi Sukati, sehingga masih terhubung dengan warisan kekayaan Majapahit, termasuk tradisi logam dan kerajinan pusaka.


Hubungan Sunan Kalijaga dengan metalurgi semakin kuat melalui sosok Empu Supo, suami dari adiknya Dewi Rosowulan—seorang ahli pembuat keris yang sangat terkenal pada masanya.


Pemahaman metalurgi Jawa kuno ini kerap dibandingkan dengan konsep alchemists di Barat. Meskipun “batu filsuf” yang dipercaya mampu mengubah logam menjadi emas tidak pernah ditemukan, para empu Jawa justru telah melakukan rekayasa logam melalui teknik-teknik rumit yang diwariskan secara turun-temurun.


Hingga kini, tradisi menghormati keahlian metalurgi Sunan Kalijaga masih dijaga melalui Upacara Penjamasan Pusaka Kyai Carubuk setiap 10 Dzulhijjah. Pusaka tersebut diyakini terbuat dari campuran logam pilihan yang menunjukkan tingginya pengetahuan metalurgi pada masa itu.


Upacara ini bukan sekadar ritual, namun simbol penghormatan terhadap keahlian, spiritualitas, dan kearifan seorang wali besar yang memberikan banyak warisan budaya kepada bangsa.


Beberapa kisah Sunan Kalijaga juga disandingkan dengan cerita tokoh-tokoh spiritual seperti Asif bin Barkhiya pada masa Nabi Sulaiman, yang mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis sekejap mata—sebuah fenomena yang oleh ilmuwan modern hanya dapat dijelaskan dalam teori kuantum.


Dalam berbagai perjalanan, Sunan Kalijaga digambarkan mampu hadir di tempat jauh hanya dalam sekejap, serta menyamar dengan budaya setempat untuk berdakwah. Kisah-kisah ini menunjukkan perpaduan antara spiritualitas tinggi, kecerdasan budaya, dan pemahaman mendalam tentang masyarakat.


Tokoh Kasepuhan Kadilangu Demak Raden Agus Supriyanto yang bergelar Adipati Djoyodiningrat Prawiro kusumo," Sejumlah tokoh budaya menilai bahwa semakin jauhnya masyarakat dari leluhur dan sejarah dapat menyebabkan hilangnya jati diri bangsa. Warisan pengetahuan dari para leluhur mulai dari metalurgi, spiritualitas, hingga filosofi hidup seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun masa depan,tuturnya,"


“Sunan Kalijaga memberi pesan bahwa Nusantara memiliki sumber daya luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengolah pikiran, kreativitas, dan ilmu untuk memanfaatkan kekayaan alam dengan bijak,” demikian kesimpulan yang disampaikan dalam kajian budaya tersebut,imbuhnya.


Masyarakat pun berharap agar bangsa ini mendapatkan pemimpin yang bijaksana, mampu memahami sejarah, dan diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa dalam mewujudkan kehidupan adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

(Sutarso)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html