Jalan Nasional Jepara–Kudus Lumpuh! Macet Harian, Warga Frustrasi, Negara Seolah Absen

JEPARA- Kemacetan parah kembali melumpuhkan Jalan Nasional Jepara–Kudus, salah satu jalur vital penghubung antarwilayah di Jawa Tengah. Kondisi lalu lintas nyaris tak bergerak, antrean kendaraan mengular hingga kilometeran, dan waktu tempuh membengkak berjam-jam. Situasi ini bukan lagi kejadian insidental, melainkan sudah menjadi “menu harian” yang membuat masyarakat kelelahan secara fisik, mental, dan ekonomi.


Pantauan pada Jumat, 6 Februari 2026, sejak sore hari arus kendaraan dari arah Jepara maupun Kudus tersendat total, terutama di titik rawan kemacetan pertigaan PT Mas, Desa Senggon Bugel, Kecamatan Mayong. Kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga truk logistik terjebak tanpa kepastian kapan bisa bergerak.


“Ini bukan macet biasa, ini lumpuh total. Mobil tidak bergerak, motor juga tidak bisa menyelip. Saya dari Jepara ke Mayong biasanya 30 menit, sekarang hampir dua jam,” keluh Arif (42), warga Bangsri, yang terjebak macet saat hendak pulang kerja.


Keluhan serupa datang dari sopir angkutan barang. Yudi (37), pengemudi truk ekspedisi, mengatakan keterlambatan akibat macet ini sudah berdampak langsung pada pekerjaannya.

“Kami sering kena penalti karena telat kirim. Padahal ini jalan nasional. Kalau setiap hari begini, bagaimana logistik mau lancar?” ujarnya dengan nada kesal.


Tak hanya membuang waktu dan energi, kemacetan juga dinilai meningkatkan risiko kecelakaan. Pengendara motor tampak memaksa mencari celah, sementara kendaraan besar saling berebut ruang di persimpangan sempit. Beberapa warga menyebut, situasi di sekitar pertigaan PT Mas sering kali chaos, terutama saat jam pulang kerja karyawan pabrik yang berbarengan dengan arus kendaraan lintas kabupaten.


“Setiap sore pasti macet di sini. Sudah bertahun-tahun, tapi tidak pernah benar-benar ditangani. Kadang ada petugas, kadang tidak. Kami seperti dibiarkan menghadapi masalah yang sama terus-menerus,” ungkap Sulastri (50), warga Desa Senggon Bugel.


Warga menilai, pertigaan PT Mas sudah lama menjadi titik krisis lalu lintas yang seharusnya mendapatkan perhatian serius. Volume kendaraan tinggi, ditambah aktivitas industri dan kendaraan berat, membuat kawasan tersebut rawan kemacetan parah. Namun hingga kini, belum terlihat solusi permanen seperti pelebaran jalan, pengaturan ulang simpang, pemasangan traffic light adaptif, atau rekayasa lalu lintas terpadu.


“Kalau begini terus, ini bukan lagi sekadar macet, tapi kegagalan pengelolaan jalan nasional. Negara seolah absen di jalan yang menjadi urat nadi ekonomi,” tegas Budi (45), warga Mayong.


Masyarakat mendesak pemerintah daerah, Balai Pengelola Jalan Nasional, Dinas Perhubungan, serta aparat kepolisian untuk segera turun tangan secara serius dan terkoordinasi. Penataan ulang persimpangan, pengaturan jam operasional kendaraan berat, hingga penempatan petugas secara permanen dinilai mendesak dilakukan agar kemacetan tidak terus menjadi bencana harian.


Sebagai jalur nasional yang menopang pergerakan manusia, barang, dan roda ekonomi regional, Jalan Nasional Jepara–Kudus seharusnya menjadi simbol kelancaran dan keselamatan, bukan wajah kemacetan kronis. Tanpa langkah tegas, cepat, dan berkelanjutan, masyarakat khawatir jalan ini akan terus menjadi titik penderitaan massal — macet berjam-jam, lumpuh total, dan tanpa solusi nyata.

Peliput : Petrus

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html