Aktivis Kawakan Kudus Mencatat Ada 14 Poin Persolan di Kudus Sepanjang Tahun 2025

KUDUS - Sepanjang tahun 2025 ini menjadi salah satu periode yang paling menantang bagi kehidupan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Serangkaian peristiwa sosial, politik, keamanan, dan kesehatan memperlihatkan bagaimana ruang kebebasan masyarkat sipil (Civil Society) mengalami penyempitan signifikan. 




Momen puncaknya terjadi pada akhir bulan Agustus 2025 lalu, ketika wacana kenaikan gaji dan tunjangan DPR memicu protes publik berskala Nasional. Protes tersebut tidak hanya menyoroti isu remunerasi pejabat, tetapi juga menjadi kanal bagi akumulasi ketidakpuasan yang telah berlangsung lama, terutama di kalangan generasi muda.

Di tengah eskalasi tersebut, terjadi insiden pelindasan terhadap Afan Kurniawan (diver ojol) oleh oknum kepolisian. Peristiwa ini memperkuat persepsi publik mengenai penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan dalam menghadapi aksi damai. Tidak lama kemudian, muncul gelombang penangkapan ribuan aktivis di berbagai Kabupaten/Kota tanpa informasi yang transparan mengenai dasar hukumnya. 

Tirta Arum mengamati hal tersebut dalam sekala daerah Kabupaten Kudus. Pada penghujung tahun 2025 ini sedikitnya ada 14 poin yang kami rangkum sebagai refleksi dan perlu penanganan pejabat pemangku kebijakan daerah.

Arwani, S.H., M.H., mengatakan, pada pagi hari ini kami sengaja mengundang puluhan aktivis Kudus, yang terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarkat (LSM), awak media, mahasiswa untuk sekedar bertemu dalam suasana yang riang gembira dan tanpa agenda apapun. 

"Kami mengundang sebagian para aktivis, mahasiswa, dan insan pers atau media guna untuk bersilaturrahim dan temu kangen. Acara ini tidak ada agenda maupun muatan politik," kata Arwani kepada awak media Sabtu pagi (27/12/2025).

Lebih lanjut aktivis kawakan ini menambahkan, bahwa kegiatan pada hari ini kami selenggarakan di Jam Steak Jl. Gondangmanis, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Dirinya dan kawan-kawan yang tergabung dalam "Tirta Arum" mencatat sedikitnya ada 14 poin di Kudus yang perlu mendapat perhatian serius dari para pejabat dan pemangku kebijakan di Kabupaten Kudus. Ke 14 poin tesebut adalah;

  1. Untuk bantuan kemanusiaan dan atau sosial banyak yang belum tepat sasaran
  2. Layanan kesehatan yang belum maksimal
  3. Indikasi korupsi yang masih merajalela
  4. Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) belum merata di jalan yang dianggap rawan, lampu juga banyak yang mati
  5. Pasar - pasar tradisional tidak seramai dulu dan makin sepi pembeli
  6. Maraknya mafia BBM bersubsidi
  7. Kurang singkron pembangunan Jl raya, Drainase dan Pohon turus jalan
  8. Sinergitas antara Dinas satu dengan lainnya perlu ditingkatkan
  9. Keamanan dan kenyamanan masyarakat perlu lebih ditingkatkan 
  10. Banyak mafia gas LPG 3 kg (melon)
  11. Banyak Galian C illegal yang masih beroperasi
  12. Ketersediaan tenaga kerja atau buruh, walau Kudus banyak perusahaan
  13. Pendidikan yang katanya murah tapi masih banyak pungutan dan iuran dengan berbagai alasan 
  14. Tukar Guling yang menyisakan berbagai masalah 

Dan masih banyak lagi persolan di Kudus yang harus dibenahi dalam rangka menuju Kudus yang bersih, berbudaya dan sejahtera.

Pelopor LSM di Kudus Arwani juga menegaskan, bahwa pada akhirnya, refleksi tahun 2025 mengingatkan, kita akan persoalan nasib aktivis bukan hanya persoalan satu kelompok, melainkan indikator kesehatan demokrasi itu sendiri. Ketika mereka merasa aman untuk bersuara, maka seluruh warga akan merasakan manfaatnya. Kebijakan menjadi lebih terbuka terhadap kritik, institusi lebih akuntabel, dan ruang publik lebih hidup.

"Aktivis adalah bagian dari elemen kontrol dalam demokrasi, keberadaan mereka justeru memperkuat akuntabilitas kebijakan," tegasnya.

Masa depan demokrasi Indonesia bergantung pada kemampuan negara yang wajib untuk melindungi mereka (para aktivis) yang berani berbicara. Ketik para aktivis dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai mitra kritis, maka negara sedang bergerak menjauhi prinsip-prinsip demokrasi deliberatif.

"Jangan pernah bosan menjadi aktivis yang kritis, walau kadang nihilis dan tragis. Namun percayalah asal ikhlas insya Allah berakhir Manis," tutupnya.

(Luq)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html