Warga Keluhkan Terdapat Banyak Bangunan di Bantaran Sungai Sepanjang Jalan Mondosari, BBWS ke Mana?

DEMAK- 5 September 2025, Wakil Ketua GJL (Gerakan Jalan Lurus) kabupaten Demak Hadi Supriyo (Pak Piyok) Menyoroti Penyempitan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi perhatian menonjol saat terjadi bencana banjir di  Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak dengan menyempitnya (DAS) mengakibatkan resapan aliran sungai menjadi berkurang.

Salah satunya berada di Kawasan Sungai Jalur Pasar Hewan Mranggen, Kabupaten Demak. Di sepanjang Jalan Mondosari Batursari. Di kawasan ini mulai berdiri Gudang penimbunan garam grosok (uyah) hingga hunian warga. Dan juga sungai tersebut dibuat pancangan trucuk-trucuk bambu.

“Banyak bangunan permanen di bantaran sungai tersebut, hingga, mengakibatkan penyempitan sungai yang bermuara di sepanjang sungai Mondosari Batursari, dulu, sungai ini lebar sekali, namun, seiring perkembangan jaman justru menyempit dan berdiri pertokoan,  maupun bangunan rumah permanen,” ujar salah seorang warga dan (LSM)Gerakan Jalan lurus Hadi supriyo saat berbincang dengan wartawan, Jumat (5/9/2025).

Warga yang selama 30 tahun terakhir tinggal di desa Mondosari ini mengaku, telah terjadi perubahan yang signifikan terhadap aliran sungai yang bermuara ke jalur Mranggen Sayung tersebut. Dimana, banyak bangunan dengan pondasi permanen bahkan yang menjorok ke bibir sungai. Sehingga sangat membahayakan.

Tak hanya itu, sebuah jembatan juga dibangun yang difungsikan untuk bangunan ruko-ruko.

Dirinya tak memungkiri, jika rumahnya juga berada di dekat bantaran sungai itu. Namun, selama ini dirinya juga tidak pernah mendapat teguran dari pihak terkait.

“Justru ini yang membuat saya heran, kok bisa ya, bahkan, untuk teguran pun juga gak ada,” ungkap Hadi Supriyo (pak Piyok).

"Jika hujan lebat melanda, Pak Piyok mengaku, air sungai di Mondosari kalau hujan lebat pasti tidak bisa mengalir lancar karena di sungai dipasang trucukan bambu mengakibatkan banjir. alhasil, menggenangi rumah warga di sekitar kawasan desa tersebut", tuturnya.

Dirinya berkeyakinan bahwa penyempitan bantaran sungai menjadi penyebab terjadinya banjir di kecamatan Mranggen. Dia juga yakin, jika tidak hanya di kawasan Mondosari saja yang terjadi penyempitan DAS, melainkan, juga di beberapa wilayah di sekitar aliran anak sungai sepanjang Sungai tersebut.

“Saya yakin gak di sini saja, tapi, juga di wilayah lain juga sama, ya, menurut saya bagaimana pihak yang bertanggung jawab terkait masalah ini, bisa membiarkan ini terjadi?”, ucapnya heran.

Sebagai aktivis Lembaga LSM dirinya mempertanyakan bagaimana kawasan tersebut bisa muncul bangunan-bangunan liar. Padahal, sesuai aturan BBWS dan tata ruang, harusnya kawasan bantaran sungai bebas dari hunian masyarakat. 

Supriyo menegaskan, hal ini harusnya menjadi perhatian serius khususnya bagi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kota semarang, mengingat, kawasan aliran sungai menjadi tanggung jawab mereka. 

Wakil Ketua Gerakan Jalan Lurus Kabupaten Demak (GJL) secara tegas mengungkapkan, jika tidak ada tindak lanjut dari pemangku kepentingan untuk mengatasi masalah ini, maka Dirinya menandaskan akan melaporkan ke pihak berwenang.

“Kawasan garis sempadan (DAS) sudah diatur dalam Permen No 28 Tahun 2015, Kalau titiknya, bisa ditanyakan ke DPU ya,” katanya dalam percakapan via telpon.

(Mutmainah/Agus)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html