Ande ande lumut sebagai manifestasi pelestarian warisan budaya dalam peringatan kemerdekaan RI ke -80
Pentas ini melibatkan partisipasi aktif dari kelompok ibu-ibu Penggerak PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) setempat, yang memerankan tokoh-tokoh utama dengan antusiasme tinggi. Daftar pemeran mencakup:
- Ande-Ande Lumut: Bu Desi
- Yuyu Kangkang: Bu Yayuk
- Mbok Rondo Dadapan: Bu Ribut
- Mbok Rondo Klenting: Bu Siti
- Klenting Kuning: Bu Rina
- Klenting Abang: Bu Ratna
- Klenting Ijo: Bu Indah
- Klenting Biru: Bu Mei
- Bidadari: Bu Titin
- Prajurit 1: Bu Puji
- Prajurit 2: Bu Puji L
Melalui peran-peran ini, para peserta tidak hanya menghidupkan kembali elemen folkloris, tetapi juga menunjukkan bagaimana seni pertunjukan tradisional dapat menjadi medium pemberdayaan perempuan dalam komunitas pedesaan. Harapan yang diungkapkan oleh kelompok PKK adalah agar inisiatif ini menjadi pionir bagi malam tirakatan mendatang, mendorong partisipasi lebih luas dari warga yang belum terlibat tahun ini, sehingga menghasilkan ragam pentas seni baru yang memperkaya repertoar budaya lokal.
Bapak Wahab Syahroni, Ketua RT 03 RW 05 Kampung Candi Sewu, menekankan dimensi pendidikan dari acara ini. “Pentas drama ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan upaya konkret untuk mengenalkan cerita rakyat Jawa kepada generasi muda, agar mereka dapat ‘nguri-nguri’ budaya—yakni melestarikan dan menghidupkan kembali warisan leluhur,” ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan pendekatan antropologi budaya yang melihat seni rakyat sebagai alat transmisi nilai-nilai etis antargenerasi, terutama di era digital di mana pengaruh eksternal semakin dominan.
Sementara itu, Ibu Desi Indah Pratiwi, warga setempat yang memerankan tokoh utama Ande-Ande Lumut, menyoroti lapisan moral yang mendalam dalam cerita tersebut. “Selain menghibur warga dalam acara tirakatan, drama ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kesucian hati, kesetiaan, kesabaran, dan keberanian dalam menolak godaan buruk,” katanya. Ia menambahkan bahwa pesan inti cerita adalah prinsip karma—perbuatan baik akan berbuah kebaikan, sementara kejahatan akan mendatangkan keburukan—serta penekanan bahwa keindahan sejati terletak pada kebaikan hati dan kejujuran, bukan semata pada penampilan fisik. Dalam perspektif studi sastra folklor, elemen-elemen ini mencerminkan etos Jawa yang menjunjung tinggi konsep “sabrang” (kesabaran) dan “jujur” (kejujuran) sebagai fondasi harmoni sosial.
Acara malam tirakatan ini, yang dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai usia, berhasil mengintegrasikan semangat kemerdekaan nasional dengan pelestarian identitas lokal, menjadikannya contoh bagaimana perayaan HUT RI dapat menjadi platform untuk revitalisasi budaya. Di tengah tantangan modernisasi, inisiatif seperti ini diharapkan dapat menginspirasi komunitas lain di Semarang dan sekitarnya untuk terus menjaga akar budaya sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa yang berkelanjutan
(Sriyanto)




0 Komentar