Kecamatan Todanan Menggelar Tradisi Lamporan Bulan Suro

BLORA-,-Lamporan Suran Adalah Tradisi Leluhur Yang dulu pernah ada dan puluhan tahun hampir mati dan punah dan tidak ada desa desa yang melakukan tradisi Lamporan.

Ada Pegiat Seni Budaya yang aktif bergerak merawat tradisi yang hampir saja punah dan hilang dihidupkan kembali dengan dikemas sangat rapi ,detail dan sakral tanpa menghilang kan khasnya yaitu sakral dan mistis.


Pegiat dan komunitas itu adalah Omah Budaya Upat Upat Bumi yang dipimpin Kang Upat Tali Jagad, memang intens berkecimpung di pergerakan seni dan budaya.Karena Dengan Budaya lah Komunitas Upat Upat Bumi sadar yang bisa mewadahi masyarakat yang berbeda beda menciptakan kerukunan antar warga masyarakat yang begitu kompleks, karena dengan agama justru perbedaan kecil saja bisa menciptakan perrcik perseteruan antara pengikut kelompok satu dengan yang lain nya.Akhirnya digagaslah Kebangkitan Budaya lewat Lamporan yang memunculkan momentum yang tepat dengan lahir "PARADE OBOR NUSANTARA TLOGO PRINGGODANI DESA DALANGAN".Dengan Tekad memunculkan energi Sepiritual baru melahirkan Kesadaran Cita Cita. Bersama Menuju ,Satu Hati Satu Bumi Satu Jiwa Satu Semesta, Hidup Bersama, Tumbuh Bersama, Untuk Bersama Menuju Keselarasan, Keseimbangan, Persatuan dan Perdamaian,itulah pesan yang diusung Omah Budaya Upat Upat Bumi Todanan Blora,Dulu kegiatan suranan sepi tidak ada kegiatan kegiatan kebudayaan ditengah masyarakat bahkan acara hajatan ndue gawe pun sangat berpantang melakukan nya dibulan Suro .


Dengan Inisiasi Pegiat Budaya Omah Budaya Upat Upat Bumi Dilahirkan kembali Lamporan Akbar Dengan Tema "PARADE OBOR NUSANTARA"Membangkitkan semangat kembali Lamporan yang saat ini menjadi cikal bakal Lamporan Lamporan diseluruh desa desa, di kecamatan Todanan,dalam kemasan yang menarik dan meriah dengan era jaman ditambah Sound Horeg walaupun mungkin tidak pas peruntukan nya namun semuanya karena sedang trend pada masa ini.


Kang Upat Bumi Tali Jagad menuturkan,Tlogo Pringgodani, Desa Dalangan, Kecamatan Todanan, adalah suatu kelurahan yang berada jauh dari Kota Blora . Letaknya yang begitu jauh dan sering diabaikan oleh pemerintah sehingga desa ini kurang mendapat perhatian dari awak media. 


Akses transportasi menuju Desa Dalangan yang kurang memadai karena minimnya transportasi umum yang ada di desa tersebut.Tuturnya.


Lebih lanjut Kang Upat menjelaskan,"Ada sebuah tradisi unik di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Orang-orang biasa menyebutnya dengan sebutan “Lamporan” atau “Grebek Suro”Atau Suran Ageng Yang berawal dari Parade Obor Nusantara. Tradisi ini dilakukan pada satu suro, dan uniknya untuk penetapan satu suro di setiap desa itu berbeda-beda sesuai dengan leluhur yang ada di desa tersebut. Tradisi itu dilakukan dengan berjalan beramai- ramai atau arak-arakan mengelilingi desa membawa obor. Sepotong bambu yang didalamnya terdapat kain yang sudah dicelupkan dengan minyak tanah dan dibakar atau disebut oncor atau ontor.


Tradisi ini turun temurun dari nenek moyang mereka. Warga sekitar mempercayai tradisi Lamporan itu dapat mencegah musibah atau warga Todanan menyebutnya tolak bala. Pada awalnya tradisi ini diperuntukkan bagi warga yang memiliki hewan ternak yang dilakukan oleh bocah angon. Seiring berjalannya waktu diikuti oleh warga lain, sehingga banyak warga yang ikut berpartisipasi.Lanjutnya.


"Kegiatan Lamporan Mengelilingi Desa TLOGO PRINGGODANI.

Tradisi ini dilakukan selama 7 hari berturut turut. Hari pertama sampai ke enam, para warga melakukan arak-arakan yang dilakukan setelah sholat isya. Pada hari ke 7 atau malam puncaknya, para warga mengadakan ritual besar. Didalamnya terdapat tari jaranan dan barongan bahkan sekarang dipadukan dengan Sound Horeg, Barongan adalah kesenian dari Blora yang wujudnya menyerupai singo barong. Ada juga atraksi yang dilakukan oleh profesional. Malam itu berjalan sangat meriah, warga sangat antusias menonton dan ikut serta dalam acara itu. Bahkan warga dari desa desa lain pun ikut menyaksikannya.


Setelah acara itu berlangsung, tepat pukul 08.00 Wib,dimulai lah acara nyunyuk lampor sampai jam 12 malam, barongan mulai mengelilingi desa dan mengambil persembahan yang sudah disiapkan para warga berupa beras dan uang. Bahkan dulu ada Kemamang nya ,yaitu orang yang dibungkus dengan pelepah pisang dan di pelepah pisang dicucuk pakai mancung dan disulut setiap mancung hingga muncul bara apinya,dan kemamang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan karena pelaku harus puasa 40,hari saat akan jadi kemamang ,dan Kemamang akan dikejar oleh bocah angon simbol dari Tolak Balak ,Dulu Mulanya sebelum barong mengambil persembahan ia mengelilingi rumah warga satu persatu. Namun sekarang barong hanya mengambil persembahan tanpa mengelilingi rumah warga satu persatu cuma berjalan keliling satu kampung sebagai bagian dari simbol tulak balak.Pungkasnya.

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html