Ribuan Warga Kudus Ikuti Kirab Punden dan Belik, Ramaikan Ta'sis Masjid Al-Aqsho Menara Kudus
KUDUS - Pertapakendeng.com , Ta'sis Masjid Al-Aqsho Menara Kudus ke 488 akan digelar dengan berbagai kegiatan. Ta'sis kali ini mengambil tema "Keadaban Untuk Peradaban". Kegiatan ini bakal meriah terlebih ada kirab banyu panguripan yang diarak dari Pendopo Kabupaten Kudus hingga ke Masjid Al-Aqsho Menara Kudus.
Ribuan warga mengikuti kirab punden dan belik dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Ada ratusan peserta dari punden dan belik di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus yang ikut kirab banyu penguripan. Ahad, 5 Februari 2023.
Peserta membawa air yang berasal dari belik dan punden. Air tersebut ditaruh dalam sebuah gentong. Sebagai simbolis ada sembilan orang membawa air atau yang disebut dengan banyu panguripan.
Setelah acara seremoni di pendapa. Selanjutnya peserta berjalan menuju Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Peserta juga tampak ada yang membawa gunungan hasil bumi. Acara tersebut berlangsung meriah. Terlebih sempat ditiadakan selama pandemi hampir 2 tahun lalu.Ketua Panitia Pengarah Ta'sis Masjid Menara Kudus, Dr. Abdul Jalil, M.E.I mengatakan, kirab punden dan belik atau banyu panguripan dalam rangka ta'sis atau berdirinya masjid dan menara Sunan Kudus.
Menurutnya tanggal berdirinya masjid dan menara Kudus pada tanggal 19 Rajab 956 atau tahun 1444 H. Tanggal tersebut pun kata Jalil sebagai tanggal berdirinya Kabupaten Kudus.
"Bahwa kirab banyu panguripan dalam rangka ta'sis masjid menara Kudus yang ke-488, Masjid Al-Aqsho Menara Kudus, menjadi standar berdirinya Kabupaten Kudus. Terhitung 19 Rajab 956 H berarti berdirinya sekaligus berdirinya Kudus yang ke-488", ungkapnya.
Dia juga menambahkan bahw, peringatan berdirinya masjid dan menara bertemakan tentang "Keadaban Untuk Peradaban". Maksudnya keadaban berarti keluruhan ketinggian, sedangkan peradaban merupakan produk dihasilkan dari otak yang bersih.
"Harapannya untuk membangun Kudus, membangun peradaban dengan kecerdasan hati," tambah Jalil.
Dia mengatakan ada 197 peserta punden dan belik di Kudus. Air yang berasal dari punden dan belik tersebut pun sudah disatukan menjadi satu. Tak hanya, air atau yang disebut dengan banyu panguripan tersebut telah dibacakan doa.
Jalil menyebutkan banyu panguripan tersebut dipercaya membawa keberkahan bagi warga. Banyu panguripan tersebut dibagikan kepada warga setelah acara kirab selesai.
Banyu panguripan sudah dikumpulkan, tadi malam sudah dibacakan doa khataman 19 kali, putra dan putri, nanti setelah kirab akan dibagikan kepada warga.
"Jadi banyu ini, namanya banyu panguripan tentu namanya urip itu menjadi hidup, rezekinya hidup, pikiran menjadi hidup, hatinya menjadi hidup, berkah banyu panguripan", tegasnya.
Sementara itu, Bupati Kudus HM. Hartopo mengatakan kirab dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsho Menara Kudus sempat ditiadakan selama pandemi. Menurutnya kirab tersebut sebagai upaya untuk menggali histori Kota Kudus.
"Ini sempat tertunda tahun 2020-2021 dan 2022 diadakan tapi terlambat, dan tidak seheboh ini, untuk kirab ini merupakan menggali histori, ini nampak tilas Sunan Kudus pernah berkeliling menyampaikan dakwahnya dan tentunya sumur atau belik mendapat singgahan akan mendapatkan berkah", katanya.
Hartopo mengajak seluruh masyarakat untuk melestarikan budaya di Kudus. "Ini merupakan nguri-nguri budaya yang harus dirawat, ini setahun sekali berkumpul di sini. Mudah-mudahan mendapatkan keberkahan, dikasih kemudahan kelancaran", pungkasnya.
Ditempat terpisah, Mas Agus Hartono yang merupakan perwakilan dari Belik Sumur Gede Mbah Demang Dukuh Demangan turut Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus Kudus mengungkapkan, bahwa dirinya senang dan gembira bisa ikut memeriahkan acara kirab banyu panguripan.
"Saya beserta rombongan sangat senang mengikuti kegiatan ini, karena ini merupakan uri-uri budaya yang pernah dilakukan oleh Sunan Kudus", katanya.
Mas Agus Hartono mengikuti kirab banyu panguripan tersebut dengan harapan mendapat berkah. Dengan mendapat banyu panguripan tersebut yang dipercaya membawa keberkahan bagi masyarakat. Setelah itu banyu panguripan tersebut dibagikan kepada masyarakat setelah acara kirab selesai.
"Jadi banyu ini, namanya banyu panguripan tentu namanya urip itu menjadi hidup, rezekinya hidup, pikiran menjadi hidup, hatinya menjadi hidup, berkah banyu panguripan", harapannya.
Rep. Luq




0 Komentar