Harga Beras Meroket, Namun Harga Gabah Di Blora Malah Nyungsep

BLORA- Harga beras di pasaran saat ini tergolong tinggi. Namun, harga gabah di Kabupaten Blora, justru kebalikannya. Kondisi buruknya harga gabah itu dikeluhkan para petani.


Satu kg beras di Kabupaten Blora saat ini dibandrol Rp 11.500 hingga Rp 13.000 per kg. Sementara harga jual gabah kering hanya sekitar Rp 5.100 hingga Rp 5.400 per kg.


Harga jual gabah kering ini menurun dibanding bulan lalu. Saat itu, harga gabah kering di Kabupaten Blora berkisar Rp 6.200 hingga Rp 6.500 per kg.


Menurut Lasdiono, salah satu petani di Desa Plosorejo, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, harga jual gabah itu tak sebanding dengan biaya operasionalnya. Lebih lagi, saat ini ia kesulitan mendapat pupuk subsidi.


’’Harga segitu kita (petani) rugilah. Saat ini pupuk mahal, obat-obatan (penumpas hama) juga mahal, solar subsidi sulit. Ini balik modal saja syukur,’’ ujarnya, Sabtu(25/2/2023).


Kondisi ini membuat para petani menjadi korban. Saat panen raya, harga gabah tidak terkendali bahkan terpuruk. Sementara harga beras meroket tidak terkendali.


Mereka juga merasa selalu dipermainkan tengkulak. Sebab, tidak bisa mengakses langsung ke Bulog.


Petani lainnya, Eko Sukardi  menilai idealnya harga gabah di tingkat petani di atas Rp 6.000 per kg. Sebab, saat ini pupuk non subsidi maupun pestisida naik harganya.


’’Apalagi pupuk non subsidi mengalami kenaikan hingga 50 persen. Sementara untuk obat-obatan dan pestisida bisa naik hingga 30 persen. Belum lagi ditambah upah tenaga kerja juga naik. Sementara pupuk subsidi terkadang juga sulit untuk didapatkan,’’ keluhnya.


Petani Blora pun berharap pemerintah memberikan solusi terbaik bagi kelangsungan hidup mereka.


Rencananya, pemerintah akan menetapkan price ceiling gabah pada 27 Februari 2023. Jika harga yang ditetapkan nanti di bawah biaya produksi, maka petani dipastikan semakin terpuruk.

(LISWANTO)

0 Komentar

bumdes
Redaksi https://www.pertapakendeng.com/2023/02/redaksi.html