Hal tersebut disampaikan Riyanta saat meninjau langsung operasional PT Ghana Utamadi Dhuniara di Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Riyanta, keberadaan investasi di sektor tambak udang memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, seluruh kegiatan usaha tetap harus memperhatikan aspek perlindungan lingkungan dan kepatuhan terhadap regulasi.
Riyanta menyebut PT Ghana Utamadi Dhuniara telah mengantongi Persetujuan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) melalui keputusan Gubernur Jawa Tengah. Perusahaan juga terus melakukan optimalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas air agar sesuai dengan baku mutu lingkungan.
“Investasi harus memberikan manfaat ekonomi, membuka lapangan kerja, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Keduanya tidak boleh dipertentangkan,” tegas Riyanta.
Respons Keluhan Masyarakat
Dalam kunjungan tersebut, Riyanta juga mengapresiasi langkah PT Ghana Utamadi Dhuniara yang merespons keluhan masyarakat dan pengelola Pantai Pailus dengan melakukan pembersihan kawasan pesisir secara langsung.
Menurutnya, respons cepat terhadap keluhan masyarakat merupakan bagian penting dari tanggung jawab perusahaan dalam membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar.
“Ketika ada keluhan masyarakat, yang paling penting adalah bagaimana perusahaan merespons dan mencari solusi bersama. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Direktur PT Ghana Utamadi Dhuniara, Moeljadi, memastikan pihak perusahaan secara rutin melakukan pemantauan dan analisis kualitas air. Perusahaan juga mengoperasikan IPAL sebagai langkah pengelolaan limbah untuk mencegah potensi pencemaran terhadap lingkungan perairan.
Kondisi Pantai Pailus Disebut Membaik
Dari hasil peninjauan di kawasan Pantai Pailus, kondisi perairan disebut menunjukkan perkembangan yang semakin baik.
Sejumlah nelayan setempat juga menyampaikan bahwa kondisi air laut saat ini terlihat lebih jernih dan aktivitas penangkapan ikan masih berjalan normal.
Meski demikian, pengelolaan lingkungan tetap membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan agar kondisi tersebut dapat dipertahankan.
Riyanta menegaskan bahwa terciptanya iklim investasi yang sehat harus dibangun melalui kepatuhan terhadap regulasi, keterbukaan kepada masyarakat, serta komitmen menjaga lingkungan.
Menurutnya, investasi tidak semestinya diposisikan berlawanan dengan kepentingan lingkungan. Justru, investasi yang dikelola secara bertanggung jawab dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
“Investasi yang bertanggung jawab adalah investasi yang menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang,” pungkas Riyanta.
(Petrus/Suprapto)


0 Komentar