Acara yang berlangsung di GOR Pesantenan, Jalan Tunggul Wulung No. 793 Pati itu dihadiri sekitar 400 peserta dari kalangan anggota SPN, manajemen perusahaan, hingga unsur organisasi masyarakat. Kegiatan berlangsung sejak pukul 12.00 WIB hingga 16.30 WIB dengan hiburan musik “OM Laluna Music Entertainment” dari Kudus.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Manager HRD PT SFI Yulis Rahayu, Ketua SPN PT SFI Supriyadi, Ketua Panitia Bayu Jeni D.P, unsur LSM Lindu Aji Jolo Sutro Pati, serta ratusan anggota serikat pekerja.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan telah mengantongi surat rekomendasi izin dari Polsek Pati Nomor B/17/V/YAN.2.1./2026 tertanggal 8 Mei 2026. Pengamanan juga dilakukan personel gabungan Polresta Pati berdasarkan Surat Perintah Kapolresta Pati Nomor Sprin/822/V/HUK.6.6/2026 tanggal 15 Mei 2026.
Selain agenda seremonial seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars SPN, kegiatan juga diisi pemberian santunan kepada 15 anak yatim serta hiburan musik yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube.
Namun demikian, aparat intelijen dan keamanan tetap melakukan pemantauan terhadap jalannya kegiatan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan berkembangnya agenda konsolidasi buruh menjadi forum penyampaian aspirasi yang berpotensi mengarah pada aksi unjuk rasa ataupun pemogokan kerja.
Sumber internal menyebutkan, momentum Halal Bihalal memang kerap dimanfaatkan organisasi pekerja untuk memperkuat solidaritas internal sekaligus mempererat komunikasi dengan manajemen perusahaan.
“Dalam konteks hubungan industrial, acara seperti ini bukan hanya seremonial keagamaan. Ada upaya membangun soliditas organisasi pekerja sekaligus menjaga komunikasi dengan perusahaan,” ujar sumber yang enggan disebut namanya.
PT Seijin Fashion Indonesia sendiri diketahui merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak di sektor industri garmen dan alas kaki dengan jumlah pekerja cukup besar di wilayah Margorejo, Pati.
Di tengah tantangan industri padat karya, hubungan antara pekerja dan perusahaan menjadi isu sensitif yang terus mendapat perhatian aparat maupun pemerintah daerah. Karena itu, kegiatan yang melibatkan massa pekerja dalam jumlah besar tetap dipantau guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Meski berlangsung meriah dengan hiburan musik organ tunggal, hingga acara berakhir situasi dilaporkan aman, tertib, dan terkendali tanpa adanya penyampaian tuntutan terbuka maupun aksi protes dari peserta kegiatan.
Pengamat hubungan industrial menilai, pendekatan komunikasi informal seperti Halal Bihalal dapat menjadi instrumen efektif meredam potensi konflik ketenagakerjaan apabila diimbangi keterbukaan manajemen terhadap aspirasi pekerja.
“Hubungan industrial yang sehat bukan hanya dibangun di ruang perundingan formal, tetapi juga melalui pendekatan sosial dan budaya organisasi,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana organisasi buruh di tingkat perusahaan tetap menjaga eksistensi dan soliditas internal di tengah dinamika ekonomi dan ketenagakerjaan nasional.
(Sumadi)


0 Komentar