Warga Desa Gelar Haul Simbah Syaikh Abdurrohnan Al-Bar, Leluhur Cikal-bakal Desa Mutihkulon
DEMAK- Usai panen raya tiba, desa Mutihkulon kecamatan Wedung gelar tasyakuran dan haul, mengenang sejarah Simbah Syaikh Abdurrohnan Al-Bar, yang dikenal sebagai waliyyulloh dan cikal-bakal desa Mutihkulon, Jum'at, 04/08/2023.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Demak Eisti'anah, Dandim, Danramil, Camat, dan Kapolsek Wedung.
Acara haul ini berjalan sangat meriah dengan puluhan ribu pengunjung, baik dari masyarakat sekitar maupun masyarakat dari luar daerah Kabupaten Demak.
Acara Haul Simbah Syaikh Abdurrahman yang digelar rutin setiap tahun ini, biasa dilaksanakan setiap hari Jum'at Pahing, setelah Panen Raya tiba. Syaikh Abdurrahman adalah sosok Waliyullah yang dikenal sebagai orang pertama yang babat alas Desa Mutihkulon.
Dikisahkan, pada masa kerajaan Demak, Simbah Syaikh cikal bakal desa Mutihkulon ini seperti biasa melakukan aktivitas sehari-hari, yakni menebang pohon dan rumput-rumput yang di desa tersebut, dengan maksud membuka lahan baru untuk dijadikan tempat tinggal bagi anak cucu.
Di tengah aktivitasnya, Simbah Syaikh Abdurrohnan dikejutkan dengan kedatangan para punggawa kerajaan Demak Bintoro yang mengaku kehilangan kijang buruannya. Sesampainya di tempat Mbah Syaikh Abdurrohman, para Prajurit pun bertanya pada Simbah Syeh tentang kijang buruannya. Secara polos Simbah yang mengetahui kijang tersebut pun langsung menunjukkan di mana kijang itu berada.
Maka para Prajurit merasa senang hati karena telah berhasil mendapatkan kijang buruannya berkat bantuan Syaikh Abdurrahman. Kijang kemudian dibawa pulang menghadap kepada sang Raja. Sang Raja pun dengan senang hati menerima kijang tersebut dan memerintahkan punggawa untuk kembali ke tempat dimana Mbah Syaikh berada dan memberikan hadiah dengan berucap welasono, (kasihanilah. Red).
Namun para prajurit justru mendengarnya dengan kalimat tewasono, (habisi red.). Maka tak menunggu lama, para prajurit ini bergegas kembali ke hadapan Simbah Syaikh Abdurrahman Al -Bar untuk menyampaikan perintah sang Raja, yaitu Welasono (berikan hadiah). Namun karena yang mereka dengar adalah kalimat tewasono (bunuhlah), maka dengan berat hati dan tidak tega memohon pada Simbah untuk menyampaikan perintah Raja. "Mbah... saya diperintah sang Raja untuk membunuh Simbah".
Karena Simbah Syaikh ini adalah seorang waliyyulloh, maka Simbah Syaikh dengan rela dan pasrah untuk dibunuh, dengan syarat minta dikubur di tanah yang berbau wangi. Hal ini disetujui oleh Para Prajurit.
Singkat cerita, dibunuhlah Simbah Syaikh Abdurrohnan. Namun keajaiban terjadi, saat disembelih darah yang mengalir dari leher sang waliyyulloh ini berwarna putih. Maka dalam perkembangan jaman, tempat tersebut dikenal dengan nama Desa Mutih. Dan setelah dibunuh Simbah Syaikh dicarikan tanah yang wangi, untuk memakamkan jasadnya.
Itulah sekilas kisah cerita asal-usul Simbah Maulana Syaikh Abdurrahman Al-Bar. Maka setiap tahun dengan rasa syukur, setelah masa panen tiba, masyarakat Mutih Kulon mengadakan acara Haul pada Simbah Syaikh Abdurrahman Al-Bar, selain dikenang sebagai seorang wali, juga dikenang sebagai Leluhur cikal bakal desa Mutihkulon.
(Nur Rohman)


0 Komentar