Nobar Film “Pesta Babi” di Dukuhseti Pati Angkat Isu Papua, Kritik Kolonialisme Modern Mengemuka
PATI – Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Omah Joglo, Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Minggu (17/5/2026) malam, menjadi ruang diskusi kritis yang menyoroti isu ketimpangan pembangunan, eksploitasi sumber daya alam, hingga dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat di Papua.
Acara dikoordinatori Ahmad Najib, seorang guru Madrasah Aliyah asal Dukuhseti. Peserta kegiatan terdiri dari tokoh pemuda Desa Kembang, santri, pelajar, hingga masyarakat umum.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale tersebut mengangkat persoalan deforestasi dan ekspansi agribisnis yang disebut berdampak terhadap ruang hidup masyarakat adat Papua.
Dalam diskusi yang berlangsung usai pemutaran film, sejumlah peserta menilai persoalan di Papua bukan sekadar isu lokal, melainkan gambaran lebih luas mengenai benturan antara pembangunan, investasi, dan hak masyarakat adat.
Tema “Kolonialisme di Zaman Kita” yang diangkat dalam kegiatan ini juga memunculkan kritik terhadap pola pembangunan modern yang dianggap berpotensi meminggirkan masyarakat kecil atas nama investasi dan percepatan ekonomi nasional.
Meski demikian, kegiatan berlangsung dalam suasana tertib dan kondusif tanpa adanya aksi provokatif maupun seruan yang mengarah pada gangguan keamanan.
Berdasarkan hasil pemantauan aparat keamanan setempat, forum diskusi tersebut lebih banyak berisi pertukaran gagasan sosial dan refleksi akademis terkait persoalan lingkungan, konflik agraria, serta dampak pembangunan di berbagai daerah.
Namun demikian, tema yang diangkat dinilai cukup sensitif karena menyentuh isu kolonialisme modern, eksploitasi sumber daya alam, hingga kritik terhadap proyek-proyek strategis pemerintah. Aparat juga mencermati potensi berkembangnya narasi perlawanan sosial apabila isu-isu serupa terus dikaitkan dengan persoalan lokal di wilayah Kabupaten Pati.
Selain itu, penggunaan judul “Pesta Babi” sempat dinilai berpotensi memunculkan salah tafsir di tengah masyarakat yang religius apabila tidak dipahami dalam konteks film dokumenter investigatif.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa ruang-ruang diskusi publik di kalangan anak muda dan komunitas sosial di Pati mulai berkembang menjadi wadah pembahasan isu nasional yang lebih luas, termasuk persoalan lingkungan, ketimpangan pembangunan, dan hak masyarakat adat.
Di sisi lain, aparat keamanan disebut tetap melakukan pendekatan persuasif dan pemantauan guna memastikan setiap kegiatan diskusi publik berjalan sesuai koridor hukum serta tidak berkembang menjadi gerakan yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan wilayah.
(Tiem)
x



0 Komentar